KEMAJUAN teknologi telah membawa perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat, termasuk di Pangkalan Bun. Aktivitas harian, baik bekerja, belajar, maupun hiburan semakin bergantung pada perangkat digital seperti komputer, ponsel, dan tablet. Tanpa disadari, kebiasaan menatap layar dalam jangka waktu lama memicu gangguan kesehatan mata yang dikenal sebagai sindrom mata lelah (eye strain atau Computer Vision Syndrome).
Fenomena ini bukan hanya dialami oleh pekerja kantoran atau pelajar, tetapi juga ibu rumah tangga, pedagang, bahkan anak-anak yang sering menatap gawai untuk bermain atau belajar daring. Bila tidak ditangani, sindrom ini dapat menurunkan kualitas hidup, menurunkan produktivitas, dan berpotensi memicu gangguan mata jangka panjang.
Apa Itu Sindrom Mata Lelah?
Menurut American Optometric Association (AOA), sindrom mata lelah atau Computer Vision Syndrome (CVS) adalah sekelompok gangguan mata dan penglihatan yang diakibatkan oleh penggunaan layar digital secara berlebihan dan berkelanjutan.
1 Gejala yang paling sering muncul meliputi:
• Mata perih, kering, atau terasa tegang
• Penglihatan kabur sementara
• Sakit kepala
• Leher dan pundak pegal
• Sensasi terbakar atau seperti berpasir di mata
• Kesulitan fokus pada objek jarak dekat atau jauh setelah melihat layar
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa saat menatap layar, kekerapan berkedip seseorang menurun hingga 60% dari normal. Dalam kondisi normal, kita berkedip 15–20 kali per menit, namun saat fokus pada layar, jumlah ini bisa turun menjadi 5–7 kali saja.
2. Akibatnya, mata lebih cepat kering dan lelah, selain itu paparan cahaya biru (blue light) dari layar elektronik turut memperberat ketegangan mata. Studi dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa cahaya biru tidak hanya mengganggu jam biologis tidur, tetapi juga dapat mempercepat kelelahan pada mata jika terpapar terus-menerus tanpa perlindung.
3. Lingkungan kerja yang tidak ergonomis, pencahayaan yang tidak memadai, posisi layar yang tidak sejajar dengan mata, serta kebiasaan menggunakan gawai dalam kondisi gelap memperburuk kondisi ini. Sayangnya, banyak masyarakat belum menyadari bahwa keluhan keluhan seperti “mata terasa berat” atau “kepala sering pusing saat melihat laptop” merupakan sinyal dari sindrom ini.
Beberapa pendekatan medis dan praktis untuk mencegah atau mengurangi gejala mata lelah antara lain:
1. Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh
20 kaki (6 meter) selama 20 detik.
2. Berkedip secara sadar, ingatkan diri untuk berkedip lebih sering saat menggunakan perangkat digital.
3. Gunakan filter layar atau kacamata anti radiasi untuk melindungi mata dari cahaya biru dan silau layar.
4. Sesuaikan pencahayaan ruangan, hindari silau berlebihan dari jendela atau lampu yang mengenai layar secara langsung.
5. Jarak dan posisi layar harus ideal, sejauh 50–70 cm dari mata dan sedikit di bawah garis pandang.
6. Konsumsi cukup air dan vitamin A untuk menjaga kelembapan alami mata.
Sindrom mata lelah bukanlah masalah sepele, terutama di era digital seperti sekarang ini. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini bisa menurunkan kualitas penglihatan dan mengganggu aktivitas harian.
Masyarakat Pangkalan Bun dihimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan perangkat digital dan tidak mengabaikan sinyal kelelahan yang kirimkan oleh mata.
Periksa kesehatan mata secara berkala, terutama jika keluhan sering muncul. Edukasi diri dan
keluarga tentang cara menjaga kesehatan mata sejak dini merupakan investasi penting untuk masa depan penglihatan yang sehat.
Penulis: dr Agnestya CZ Raule/Dokter Umum RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun
Referensi:
1. American Optometric Association. Computer Vision Syndrome. https://www.aoa.org
2. Sheppard AL, Wolffsohn JS. Digital eye strain: prevalence, measurement and
amelioration. BMJ Open Ophthalmology. 2018.
3. Harvard Health Publishing. Blue light has a dark side. Harvard Medical School,
2019.
4. The Vision Council. Digital Eye Strain Report, 2022.









