BORNEONEWS, Sampit - Turnamen sepak bola HNR Cup I 2025 yang digelar di Stadion 29 Nopember Sampit membantu mendongkrak pendapatan UMKM lokal.
"Saya berjualan sejak awal turnamen dibuka. Awal-awal memang tidak terlalu ramai, tetapi mulai pertengahan mulai ramai dan lumayan banyak penjualannya," kata Riska salah satu pelaku UMKM yang membuka stand di halaman Stadion 29 Nopember Sampit, Sabtu, 19 Juli 2025.
Dirinya menjual minuman teh aneka rasa dan kentang goreng berbagai varian di stand halaman Stadion 29 Nopember Sampit.
Bermodalkan sewa Rp1 juta selama pertandingan digelar, dirinya merasa terbantu dan meningkatkan penghasilan dari hari-hari biasa saat ia berjualan di dekat Pasar Keramat.
Minimal ia mampu menjual 200 cup minuman dan 90 porsi kentang goreng perhari pada gelaran HNR Cup I. Bahkan jika tim-tim kuat tertentu seperti Cempaga Allstar bermain, penjualan bisa lebih meningkat karena banyaknya pendukung.
"Kalau berjualan sehari-hari biasanya hanya 20-30 cup itu maksimal. Jadi event seperti ini sangat membantu kami," imbuhnya.
Ia berharap, kegiatan seperti ini lebih sering digelar untuk membantu pelaku usaha meningkatkan penghasilan. Dengan uang sewa yang cukup terjangkau, ia mengaku puas dan senang bisa membuka lapak di Stadion 29 Nopember Sampit pada momen HNR Cup I.
HNR Cup I 2025 digelar pada Sabtu, 14 Juni 2025 hingga Sabtu, 19 Juli 2025. Sejak awal turnamen tersebut menjadi magnet bagi pecinta sepak bola di Kotim yang telah lama menantikan turnamen besar digelar.
Tak bisa dipungkiri, HNR Cup I 2025 juga menjadi magnet ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil. Tribun penonton selalu muleber alias membludak sejak pertandingan perdana. Situasi ini menciptakan peluang besar bagi UMKM lokal, terutama pedagang jajanan dan minuman.
“Kami memang menjalin kerja sama dengan UMKM. Di luar lapangan, suasana seperti pasar malam mini, penonton bisa menyaksikan pertandingan sambil jajan. Ini jelas mendongkrak ekonomi warga,” kata juru bicara panitia HNR Cup I Adi Wahyudi.
HNR Cup I 2025 bukan sekadar turnamen sepak bola, melainkan ajang membangkitkan semangat sportivitas, meningkatkan ekonomi lokal, sekaligus mempererat tali silaturahmi masyarakat Kotim, khususnya bagi pecinta sepak bola. (DEWI PATMALASARI/R)









