BORNEONEWS, Palangka Raya - Isu lingkungan akibat penggunaan plastik sekali pakai masih menjadi sorotan di Indonesia. Salah satu penyumbang limbah plastik yang sulit terurai adalah polybag untuk pembibitan kelapa sawit.
Menurut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, keberadaan limbah polybag plastik yang terus bertambah menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan.
“Sudah saatnya kita beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan,” tegasnya pada Minggu, 20 Juli 2025.
Seiring dengan peningkatan produksi minyak sawit nasional, kebutuhan akan polybag pembibitan juga semakin meningkat. Hal inilah yang mendorong BPDP mendanai riset strategis bertajuk Aplikasi Biodegradable Polimer Sintetik pada Pembuatan Paper Bag dari Pulp Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Kemasan Pembibitan. Penelitian ini melibatkan sembilan akademisi lintas institusi dan bertujuan menemukan solusi berkelanjutan bagi industri sawit.
Penelitian berdampak ini memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit atau TKKS yang selama ini hanya dianggap limbah. TKKS ternyata mengandung selulosa tinggi dan memiliki serat pendek-sedang berukuran 0,87–1,1 mm, yang berpotensi diolah menjadi paper bag biodegradable. Menurut Eddy Abdurrahman, pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah plastik, tetapi juga meningkatkan nilai tambah limbah sawit menjadi produk industri.
Meski TKKS bisa diolah menjadi kertas, tantangan besar tetap ada, yaitu kekuatan kertas saat basah. Proses kelembaban membuat ikatan hidrogen pada selulosa melemah sehingga kertas mudah robek. Untuk itu, tim peneliti melakukan berbagai tahapan uji, termasuk penambahan bahan penguat kimia dan resin sintetis biodegradable untuk meningkatkan daya tahan kertas baik dalam kondisi kering maupun basah.
Salah satu pencapaian penting dari riset ini adalah penggunaan resin kationik dengan gugus azetidinium atau etilen imin, yang berhasil meningkatkan rasio kekuatan basah terhadap kering (wet to dry tensile ratio) hingga mencapai 68%. Nilai ini menunjukkan harapan besar bahwa paper bag TKKS bisa menggantikan polybag plastik dalam skala pembibitan nyata.
Meski uji biodegradabilitas menunjukkan proses degradasi berlangsung lambat tanpa bantuan mikroba, sifat ramah lingkungan dari paper bag ini jauh lebih unggul dibandingkan polybag plastik. Inovasi ini pun berhasil masuk dalam daftar 115 karya inovatif paling prospektif di Indonesia dan tengah diajukan untuk mendapatkan hak paten.
Saat ini, BPDP bersama tim peneliti tengah melakukan uji coba langsung paper bag TKKS di berbagai lokasi pembibitan kelapa sawit. Jika berhasil diadopsi secara massal, Indonesia akan selangkah lebih maju dalam menerapkan ekonomi sirkular dengan memaksimalkan limbah sawit sebagai bahan baku industri ramah lingkungan.
“Langkah ini membuktikan bahwa riset dan inovasi berbasis keberlanjutan bukan lagi wacana, melainkan solusi nyata bagi masa depan industri sawit dan lingkungan,” tutup Eddy Abdurrahman. (TESTI PRISCILLA/H)









