PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Budaya membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi praktik umum di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Meski dianggap sebagai metode tercepat dan termurah, cara ini menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan sinergi antara masyarakat dan pihak swasta untuk membangun sistem pencegahan yang efektif.

Sebagai bagian dari komitmennya terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, PT Sawit Mandiri Lestari atau SML kembali menggelar Apel Siaga Karhutla. Kegiatan ini melibatkan Masyarakat Peduli Api atau MPA binaannya yang selama ini berperan aktif sebagai mitra strategis dalam pengawasan dan pengendalian kebakaran di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Apel Siaga Karhutla bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi merupakan manifestasi dari konsistensi PT SML dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap ancaman karhutla. Melalui kegiatan ini, perusahaan memperkuat jejaring komunikasi, memvalidasi kesiapan alat dan personel, serta menginternalisasi nilai kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Manager Sustainability PT SML, Joko Triyanto, menekankan bahwa MPA bukan hanya garda terdepan dalam pemadaman api, melainkan juga agen edukasi di tengah komunitas.

“Keberhasilan pengendalian karhutla tak cukup bergantung pada regulasi atau infrastruktur. Keberdayaan masyarakat lokal adalah kuncinya,” ujar Joko dalam rilisnya pada Minggu, 20 Juli 2025.

Joko juga menyoroti pentingnya pendekatan budaya dan edukatif dalam mencegah praktik pembakaran lahan.

“Kami menyadari bahwa ini bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi juga soal warisan. Maka pendekatannya pun harus bijak, berbasis edukasi dan pendampingan berkelanjutan,” tambahnya.

Selain meningkatkan kesiapsiagaan teknis, Apel Siaga ini menjadi wadah silaturahmi antara perusahaan dan masyarakat binaannya. Momen ini digunakan untuk mempererat hubungan, mengevaluasi strategi, dan memperbarui komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.

Dengan konsistensi seperti ini, PT SML berharap dapat menciptakan ekosistem masyarakat yang tidak hanya tangguh dalam menghadapi karhutla, tetapi juga aktif dalam menyebarkan kesadaran lingkungan secara luas. Upaya pencegahan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan menjadi gerakan kolektif yang lahir dari rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. (TESTI PRISCILLA/H)