BORNEONEWS, Palangka Raya - Rumah Informasi Konservasi Tuntong Laut (RIT) di Desa Pusung Kapal, Aceh Tamiang, mendapat kunjungan dari tim dosen Program Studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU) pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Mereka hadir untuk melihat langsung perkembangan konservasi Tuntong Laut dan habitat sekitarnya.
Tim peneliti tersebut turut mensupervisi penelitian lapangan yang sedang dijalankan oleh mahasiswa magister, Joko Guntoro, yang fokus pada aspek ekologi Tuntong Laut di kawasan pesisir Seruway. Spesies ini diketahui berada dalam status dilindungi dan menghadapi risiko kepunahan.
Para dosen, yang terdiri dari Prof. Rahmawaty, Dr. Alief Aththorick, dan Dr. Erni Jumilawaty, mendapatkan kesempatan menyaksikan anakan Tuntong Laut hasil penetasan yang dilakukan selama musim bertelur oleh tim konservasi. Mereka terkesan melihat lebih dari seribu anak reptil tersebut dalam masa pembesaran di fasilitas RIT.
"Keberhasilan proses penetasan ini tak lepas dari kerja sama antara Yayasan Satucita, Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Aceh, dan masyarakat Desa Pusung Kapal, yang konsisten mendukung pelestarian spesies asli Sungai Tamiang," kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Minggu, 20 Juli 2025.
Selain meninjau fasilitas, tim dosen juga menyusuri Sungai Tamiang untuk mengamati kondisi habitat alami Tuntong Laut dan Buaya Muara (Crocodylus porosus). Meski berbagi wilayah hidup, belum diketahui secara pasti apakah interaksi antar keduanya bersifat kompetitif atau predatoris.
Kunjungan akademisi USU ini diharapkan mampu memperkuat jaringan riset konservasi dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor untuk menjaga ekosistem sungai dan pesisir Seruway yang menjadi rumah bagi banyak spesies penting. (TESTI PRISCILLA/H)









