SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor optimistis pihaknya mampu menyelesaikan pembenahan tempat pengelolaan akhir (TPA) sampah sebelum batas waktu yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup paling lambat Oktober 2025.

"Progres (perkembangannya) sangat baik. Saya optimistis ini target Oktober bisa selesai, atau mungkin di September selesai," kata Halikinnor di Sampit, Senin, 21 Juli 2025.

Kotawaringin Timur sedang menjalani sanksi administratif paksaan pemerintah dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sanksi ini dijatuhkan karena pengelolaan sampah di daerah ini dinilai tidak sesuai ketentuan.

Agar terhindar dari sanksi yang lebih berat seperti penutupan TPA bahkan ancaman pidana, pemerintah daerah harus melakukan pembenahan dan memperbaiki kinerja dalam bidang pengelolaan sampah. Salah satu yang menjadi fokus pembenahan tersebut adalah TPA sampah.

Pemkab Kotawaringin Timur memiliki waktu hingga akhir Oktober nanti untuk membenahi dan meningkatkan pengelolaan sampah. Syarat lainnya juga harus dipenuhi, seperti pembaruan dokumen lingkungan, pemilahan dan pengurangan sampah, serta syarat lainnya.

Bupati mendukung penuh upaya ini. Selain turun langsung memantau, dia menegaskan memprioritaskan masalah ini dalam hal alokasi anggarannya agar semua program bisa berjalan dengan baik.

"Kalau misalnya anggarannya kurang, saya mungkin bisa menunda program lain, tetapi penanganan sampah tetap menjadi prioritas. Jangan sampai menumpuk begini atau apalagi sampai dapat sanksi tidak boleh membuang, ini dampaknya luas masyarakat pasti akan ribut," ujar Halikinnor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Marjuki mengatakan saat ini dilakukan optimalisasi pengangkutan serta penataan sampah dengan sistem landfill atau lubang yang kemudian ditutup setelah penuh terisi sampah.

"Kita tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang tidak terencana dengan baik. Jadi, kita tidak hanya ingin memindah masalah dari depo ke TPA, tetapi bagaimana setelah di TPA ini tidak terjadi masalah lagi," tegas Marjuki.

Pemilihan sampah di depo sampah juga akan dioptimalkan. Tujuannya agar sampah yang diangkut ke TPA tersisa sedikit dengan adanya upaya pengurangan sampah tersebut.

Berbagai upaya yang dilakukan sudah menunjukkan hasil. Dulunya ada sekitar 30 truk mengangkut sampah ke TPA dalam seharinya, kini berkurang menjadi sekitar 16 truk per hari. Selain itu, tidak ada lagi penumpukan sampah di depo karena pengangkutan lebih cepat.