BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS menegaskan komitmennya dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di Kalimantan Tengah. Respons ini diberikan menyusul peringatan dini musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta arahan dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolkam) RI dalam Apel Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla Nasional 2025.
Langkah SSMS tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban regulatif, melainkan juga menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjaga lingkungan. SSMS aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, aparat TNI/Polri, dan masyarakat lokal, guna menciptakan sistem pencegahan Karhutla yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Chief of Sustainability Officer PT SSMS Tbk, Henky Satrio W, menyampaikan bahwa perusahaan terus memperkuat forum komunikasi Karhutla yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni.
"Forum ini menjadi wadah strategis untuk patroli gabungan, berbagi informasi titik panas (hotspot), serta melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas upaya yang dilakukan," kata Henky dalam rilisnya pada Senin, 21 Juli 2025.
Selain forum komunikasi, SSMS turut mendukung pelatihan masyarakat dan pemetaan wilayah rawan Karhutla. Aksi ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan lokal, sekaligus memperkuat daya tahan ekosistem terhadap perubahan iklim yang kian ekstrem. Integrasi antara pendekatan teknologi dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
"Komitmen SSMS dalam mitigasi Karhutla juga tercermin melalui penggunaan sistem pemantauan cuaca dan kelembaban tanah secara real-time. Teknologi ini memungkinkan identifikasi dini terhadap potensi kebakaran, sehingga respons yang diberikan dapat lebih cepat dan tepat sasaran," tuturnya.
Upaya SSMS memperkuat kolaborasi multipihak menjadi refleksi penting dari peran sektor swasta dalam pelestarian lingkungan. Dengan sinergi antarpemangku kepentingan, diharapkan Kalimantan Tengah dapat melalui musim kemarau dengan risiko Karhutla yang lebih rendah dan keberlanjutan lingkungan yang lebih terjaga. (TESTI PRISCILLA/j)









