PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di usia muda, Onata Susilo memilih kandang ayam ketimbang mengejar karier di balik meja kantor.

Setelah lulus kuliah pada 2019, pemuda lulusan Teknik Komputer ini mantap melanjutkan usaha ternak ayam petelur yang dirintis ayahnya.

Onata tidak hanya melanjutkan, tapi juga memperluas dan mengemasnya dalam skala yang lebih profesional melalui CV Ibrahim Jaya Abadi.

"Pertama dari pas kuliah aku sudah mulai usaha ayam telur sama ayam broiler. Tapi aku maunya nekuni ayam petelur. Kalau broiler harga penjualan sering naik turun, kalau petelur cenderung stabil," kata Onata di sela sela kegiatannya di Jalan Siti Bakar, Kereng Bengkirai, Palangka Raya.

Ia memulai dengan pola yang efektif: mendatangkan ayam siap telur usia 16 minggu. Produksi akan mulai muncul di usia 19 minggu, dan mencapai puncak di usia 1,5 tahun.

Dalam satu siklus, seribu ekor ayam petelur bisa menghasilkan hingga 90 persen telur per hari saat masa produktif.

"Produksi biasanya sampai umur dua tahun, setelah itu menurun dan ayamnya biasanya dijual afkir. Bisa buat soto, nanti tinggal nambah dikit bisa beli bibit baru lagi," ujarnya.

Lebih dari sekadar berjualan ayam, Onata tidak membuka peluang bantuan untuk kerjasama. Pelaku usaha bisa membeli paket kandang dan ayam serta mendapat pendampingan penuh selama satu bulan. Timnya akan mengajari mulai dari memberi makan, mencampur pakan, manajemen kandang, vaksinasi, hingga mengelola limbah.

"Bagi pemula sangat worth it. Seribu ekor seperti ini di luar Jawa harganya Rp230 juta, sudah termasuk kandang premium model baterai, ayam dari Kediri, dan peralatan lengkap. Listrik cukup 900va pakai satu kipas dan enam lampu pijar," jelasnya.

Pasarnya kini mulai merambah Kalimantan setelah sebelumnya menyuplai hingga Toraja dan Papua. Ia juga sudah ada kerja sama dengan BUMDes, koperasi, hingga rencana dengan Merah Putih November mendatang.

Onata percaya, anak muda seharusnya tidak perlu cari kerja jika bisa produktif dari kandang. Usaha bisa diawali dengan skala kecil. apalagi pangsa pasar masih cukup besar, komoditas telur Kalimantan 60 persen masih disuplai dari jawa.

"Produksi 500 ekor pun sudah bisa untuk hidup. bahkan membantu bapak ibu, sudah bisa itu," tegasnya. (HERMAWAN DP/R)