PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Manila — Sebuah film dokumenter bertajuk “Peacemaker (Pembawa Damai)” sukses menggugah hati para penonton dalam pemutarannya yang digelar pada 19 Juli 2025 di Red Carpet Cinema 1, Shangri-La Plaza Mall.

Film ini diprakarsai oleh organisasi perdamaian internasional Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) dan mengangkat perjalanan luar biasa Ketua HWPL, Lee Man-hee, dalam mewujudkan perdamaian global.

Lee Man-hee, seorang veteran perang Korea Selatan, kini dikenal sebagai utusan perdamaian dunia. Film ini menyoroti perjuangannya selama lebih dari satu dekade untuk mengakhiri perang dan konflik global melalui dialog antarbangsa, kolaborasi lintas agama, dan kerja sama masyarakat sipil internasional.

Salah satu poin penting dalam dokumenter ini adalah lahirnya Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW) — sebuah kerangka hukum dan moral yang terdiri dari 10 pasal dan 38 butir, yang bertujuan mendorong pemerintah dan masyarakat global agar menghentikan perang dan menciptakan budaya perdamaian yang berkelanjutan.

Melalui tayangan ini, penonton diajak menyaksikan bagaimana HWPL membangun jaringan perdamaian yang kuat dengan ribuan relawan dan mitra organisasi dari berbagai negara, termasuk keterlibatannya dalam proses perdamaian di Filipina, khususnya di Daerah Otonomi Bangsamoro Muslim Mindanao (BARMM).

Pemutaran film ini disambut antusias oleh berbagai kalangan. Gregory Banzon, Chief Operations Officer sekaligus Wakil Presiden Eksekutif Century Pacific Foods, memberikan apresiasi tinggi terhadap dokumenter ini. 

“Film ini sangat menarik. Strategi Ketua Lee sangat tepat sasaran, membawa isu perdamaian ini ke level nasional, global, bahkan hingga ke PBB,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ivan Gozum, dosen Universitas Santo Tomas dan Humas Religious Educators Association of the Philippines (REAP). Ia mengaku terharu dengan pesan mendalam dari film tersebut. 

“Awalnya saya mengira ini film tentang pahlawan super. Tapi ternyata, Ketua Lee dan HWPL adalah pahlawan masa kini yang berjuang menghentikan perang, mendidik tentang perdamaian, dan mendorong kerukunan lintas agama,” ujarnya.

Dalam suasana penuh refleksi, Pendeta Hindu Archarya Prem Shankaranand Tirth turut menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdamaian lintas manusia. 

“Perdamaian dunia sangat dibutuhkan. Kita terpecah oleh agama, ras, dan politik. HWPL menunjukkan bagaimana umat manusia bisa bersatu,” katanya. Ia juga menambahkan, “Mari kita fokus pada kesamaan yang mempersatukan, bukan perbedaan yang memisahkan.”

Selain menjadi tayangan inspiratif, Peacemaker juga menjadi momentum ajakan bagi masyarakat Filipina untuk turut aktif dalam menciptakan perdamaian di lingkungan masing-masing. Acara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sekadar impian — tetapi tanggung jawab bersama.