BORNEONEWS, Palangka Raya – Momen penuh makna tersaji dalam peringatan Hari Anak Nasional 2025 yang digelar secara kolaboratif oleh berbagai komunitas di Palangka Raya. Mengusung semangat kesetaraan dan inklusifitas, kegiatan ini menghadirkan ruang interaksi kreatif bagi seluruh anak tanpa sekat, melalui aktivitas ecoprint.
Ketua pelaksana kegiatan, Nazwa, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil sinergi sejumlah komunitas seperti Sekolah Rakyat Merdeka Kalimantan Tengah, Turun Tangan Palangka Raya, serta komunitas literasi lainnya. Ini menjadi peringatan Hari Anak pertama yang melibatkan kolaborasi lintas komunitas secara langsung.
“Tujuan kami adalah meningkatkan inklusifitas dan menghapus stigma yang masih melekat. Kami ingin menunjukkan bahwa semua anak bisa tumbuh dan berbaur dalam kegiatan kreatif apa pun,” ujar Nazwa.
Dipilihnya aktivitas ecoprint yakni mencetak pola alami dari dedaunan dilatarbelakangi keinginan menciptakan kegiatan yang bisa diikuti oleh anak-anak dari berbagai usia dan latar belakang kemampuan.
Sebanyak 63 anak terlibat aktif, mulai usia 2 hingga 12 tahun. Mereka berasal dari berbagai satuan pendidikan seperti PAUD, TK, SD, SLB, PKBM, serta masyarakat umum. Suasana kegiatan hangat dan penuh canda tawa, memperlihatkan semangat kebersamaan tanpa batas.
Kebahagiaan juga dirasakan para orang tua. Ibu dari Erlita, salah satu peserta, mengaku senang anaknya bisa mengenal dan mencoba langsung proses membuat ecoprint.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Anak saya senang karena bisa belajar sambil bermain dengan teman-teman lain,” ucapnya.
Senada dengan itu, ibu dari Jeta berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin.
“Suasananya seru dan anak-anak tampak ceria. Kalau bisa ini rutin tiap bulan, supaya anak-anak punya ruang bersosialisasi di akhir pekan,” ujarnya.
Halinka, salah satu siswa SD peserta kegiatan, turut membagikan kesannya.
“Seru banget! Mau ikut lagi nanti kalau ada,” katanya singkat penuh antusias.
Kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya menyediakan ruang bermain yang inklusif, aman, dan mendukung tumbuh kembang anak. Ia menghapus sekat, mempertemukan perbedaan, dan merayakan potensi setiap anak apapun latar belakangnya.
“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut. Dan semoga kita semua bisa menjadi orang dewasa yang menciptakan lingkungan pendukung bagi pertumbuhan anak-anak,” tutup Nazwa dengan haru. (SITI AKOBAH/H)









