PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah dan Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalteng, Rawing Rambang, menegaskan bahwa kelapa sawit telah menjadi komoditas unggulan yang menyokong ekonomi nasional secara signifikan. Berdasarkan data Dirjen Perkebunan tahun 2023, total luas kebun sawit Indonesia mencapai 16,38 juta hektar, dengan 59 persen berada di sektor perkebunan besar dan 41 persen pada perkebunan rakyat.

Komoditas sawit tidak hanya menghasilkan 48 juta ton CPO per tahun, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar: 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung.

"Ekspor sawit bahkan menembus angka Rp600 triliun pada 2022, melampaui nilai ekspor migas," ungkap Rawing kepada Borneonews pada Kamis, 24 Juli 2025.

Keunggulan ini menjadikan sawit sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.

Menurut Rawing, kelapa sawit juga berperan dalam pengembangan wilayah baru, memanfaatkan lahan marginal, dan berkontribusi terhadap penyerapan karbon melalui proses sequestration CO2 menjadi O2. Ia menambahkan bahwa lebih dari 193 produk industri hilir berbasis sawit telah dikembangkan dan digunakan di berbagai sektor kehidupan.

“Tidak ada komoditas lain yang dapat menandingi pesona sawit dalam hal produktivitas, efisiensi, dan kebermanfaatannya,” katanya.

Sawit sangat cocok tumbuh di daerah tropis, membuat Indonesia berada dalam posisi ideal sebagai produsen utama. Saat ini, Indonesia menguasai 65 persen produksi global dan mengekspor 61 persen kebutuhan dunia.

Namun, Rawing mengingatkan bahwa tahun 2025 merupakan periode yang penuh tantangan. Secara global, kelapa sawit menghadapi hambatan berupa tarif impor dari Amerika Serikat, dinamika geopolitik, dan kampanye negatif yang terus bergulir di berbagai negara tujuan ekspor.

Di tingkat domestik, tantangan utama terletak pada stagnasi produktivitas, ketidakpastian hukum, dan kebijakan energi nasional yang belum konsisten. Rawing menekankan perlunya perbaikan regulasi agar sektor sawit dapat terus tumbuh dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

Rawing berharap agar masyarakat dan pemangku kebijakan tidak melupakan besarnya kontribusi sawit bagi Indonesia.

“Sawit harus tetap menjadi pesona ekonomi nasional, sejalan dengan program Asta Cita Presiden dalam menciptakan kesejahteraan yang merata,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)