PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Caritas Indonesia bersama Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi atau PSE Caritas Keuskupan Palangka Raya menyelenggarakan Lokalatih Manajemen Bencana bertajuk Aksi Respon Peringatan Dini dan Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR) sebagai bagian dari Program Paroki Tangguh Thrive.

Pelatihan ini berlangsung pada Jumat hingga Minggu, 25–27 Juli 2025, di Aula Magna Keuskupan Palangka Raya, menghadirkan fasilitator nasional dari Tim Kesiapsiagaan Caritas Indonesia: Yohanes Teguh Bayu dan Johanes Juliasman.

Direktur PSE-Caritas Keuskupan Palangka Raya, Pastor Danang Widhi Anggoro, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya yang telah diselenggarakan selama tiga hari di bulan Juni.

“Jika sebelumnya peserta dibekali pemahaman mendalam tentang standar kemanusiaan dan pendekatan berbasis hak, kali ini pelatihan difokuskan untuk memperkuat keterampilan respons cepat serta penguatan koordinasi lintas sektor,” ungkap Pastor Danang pada Jumat, 25 Juli 2025.

Pelatihan kali ini dirancang lebih intensif, menyatukan sesi teori dengan praktik lapangan berupa simulasi penanganan bencana. Para peserta diajak untuk menyusun strategi lokal berbasis komunitas, mengenali potensi ancaman bencana di wilayah masing-masing, serta merancang rencana aksi tanggap darurat yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan CMDRR menjadi kunci dalam membentuk sistem kesiapsiagaan yang dipimpin oleh masyarakat sendiri.

Uskup Keuskupan Palangka Raya, Mgr. Dr. Aloysius M. Sutrisna Atmaka, MSF, turut memberikan refleksi spiritual dalam pembukaan kegiatan.

“Caritas itu berkembang secara unik di setiap tempat. Tak melulu soal bencana besar, melainkan juga perhatian terhadap sesama yang membutuhkan di sekitar kita. Itu pun bentuk nyata Cinta Kasih,” ujar Mgr. Sutrisna.

Beliau menekankan bahwa semangat Caritas bukan sekadar teknis respons terhadap bencana, melainkan sebuah panggilan untuk berbela rasa.

“Ada yang rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk menolong orang lain dalam diam—itulah wujud cinta kasih yang tak ternilai. Saya mengapresiasi para peserta yang hadir bukan hanya untuk belajar, tetapi juga memperkuat tekad menjadi berkat bagi komunitas,” tambahnya.

Kegiatan ini mengumpulkan peserta dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Palangka Raya, melibatkan tokoh masyarakat, relawan muda, dan unsur pemerintah lokal. Kehadiran lintas elemen tersebut menciptakan ruang kolaborasi yang dinamis untuk membangun sinergi dalam mengelola risiko bencana secara menyeluruh.

Caritas Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendampingi Keuskupan Palangka Raya dalam mewujudkan Paroki Tangguh yang tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga aktif memelihara kehidupan dan solidaritas sosial. Dengan lokalatih ini, harapannya tercipta jaringan komunitas yang responsif, berdaya, dan saling menjaga.

Melalui pendekatan partisipatif dan berbasis nilai, kegiatan ini tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan, melainkan juga menumbuhkan jiwa kepemimpinan sosial untuk menghidupi prinsip Caritas dalam kehidupan sehari-hari. (TESTI PRISCILLA/H)