PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Wakil Ketua I DPRD Palangka Raya, Hap Baperdu menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan sudah menjadi kenyataan lokal yang nyata terasa dampaknya. 

Hal ini ia sampaikan saat membahas isu-isu lingkungan yang belakangan kian mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut.

Menurutnya kawasan gambut di Palangka Raya sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti meningkatnya suhu ekstrem, kekeringan panjang, dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

"Masyarakat di sekitar kawasan gambut adalah kelompok yang paling terdampak. Mata pencaharian mereka, pola tanam, bahkan kualitas hidup sehari-hari mulai terganggu akibat perubahan iklim yang makin nyata," ujarnya, Jumat 25 Juli 2025.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota perlu mengambil langkah serius dan cepat dalam merespons situasi ini. Salah satunya dengan memperkuat edukasi lingkungan, memperluas rehabilitasi lahan gambut, serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas yang dapat memicu kerusakan lingkungan.

“Penanganan perubahan iklim tidak bisa ditunda. Kita harus bergerak dari sekarang, dari kota kita sendiri, dengan kebijakan dan program yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem,” tegasnya.

Hap juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, serta pelaku usaha dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 

Menurutnya, hal ini penting agar Kota Palangka Raya mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan, terutama kawasan gambut yang menjadi salah satu benteng ekologi penting di Kalimantan Tengah. (MARINI/R)