BORNEONEWS, Palangka Raya — Setiap musim kemarau, aliran Sungai Kahayan yang melintasi Desa Pandawei mengalami penyusutan debit air yang cukup signifikan.
Permukaan air sungai surut, sehingga pasir dan bebatuan di dasar sungai mulai terlihat jelas. Fenomena ini menjadi perhatian warga setempat dan telah menjadi pemandangan rutin tahunan.
Seorang warga Desa Pandawei, Sriwati, menyampaikan bahwa fenomena surutnya sungai ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi ciri khas saat kemarau tiba.
"Kalau sudah kemarau, air sungai mulai surut, pasir dan batu-batu di dasar sungai kelihatan. Anak-anak biasanya senang bermain di sana," ujar Sriwati, Senin, 28 Juli 2025.
Ia menjelaskan bahwa meskipun kondisi sungai berubah drastis saat kemarau, warga tidak menganggapnya sebagai ancaman. Justru, momen tersebut dimanfaatkan anak-anak desa untuk bermain pasir, menangkap ikan kecil, atau sekadar bermain air di sela-sela aliran sungai yang menyempit.
Namun demikian, warga tetap berhati-hati dan mengingatkan anak-anak untuk tidak bermain terlalu jauh ke tengah sungai, guna menghindari bahaya dari sisa lubang aliran atau endapan lumpur yang dalam.
Kondisi ini juga kerap menjadi bahan diskusi masyarakat, terutama terkait dengan dampak perubahan musim dan potensi pemanfaatan lahan sungai yang mengering secara sementara.
"Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan juga kondisi sungai di desa, baik dari sisi kebersihan maupun pemanfaatannya, agar tetap aman dan bermanfaat," tambah Sriwati. (MARINI/j)









