BORNEO NEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya pada dasarian ketiga bulan Juli 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam K Anwar peningkatan karhutla ini terjadi di beberapa daerah yang rentan terhadap kebakaran. Meskipun BPBD berupaya keras untuk mencegahnya, luasnya wilayah Kotim menjadi tantangan tersendiri.
"Pada dasarian ketiga bulan Juli ini sudah mulai mengalami peningkatan, tapi peningkatan itu bukan berarti baik peningkatannya pada daerah-daerah yang mudah terbakar, resisten atau risikonya juga sudah mulai meningkat," katanya, Senin, 29 Juli 2025.
Diketahui, dalam sepekan ini telah terjadi dua peristiwa karhutla di wilayah Sampit yaitu Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.
Karhutla terjadi di Jalan Karya Bersama Kecamatan Baamang seluas 10x 15 meter dan di Jalan Mohammad Hatta, gang Suhaimin Kecamatan Mentawa Baru Katapang dengan luasan 10x60 meter.
Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD Kotim membagi kewenangan dan berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana dan Penanggulangan Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan mendirikan delapan posko lapangan Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayah yang memiliki resiko tinggi karhutla.
"Selain itu kami juga gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada MPA dan tim serbu api. Mereka ini garda terdepan jika terjadi karhutla," ucapnya.
Diketahui belum lama ini, pelatihan dilakukan selama tiga hari berturut-turut di sejumlah kecamatan di Kotim, seperti di Sampit, Kota Besi dan Cempaga.
Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan dan kemampuan masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi karhutla. BPBD Kotim berkomitmen untuk menekan angka karhutla di tahun 2025 ini. Namun, peningkatan risiko kebakaran di beberapa wilayah mengharuskan langkah antisipasi yang lebih intensif.
BPBD Kotim berharap dengan adanya pelatihan dan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, peningkatan karhutla dapat ditekan dan dampaknya dapat diminimalisir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana karhutla. (DEVIANA/y)









