PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengelolaan industri sawit secara berkelanjutan menjadi tema utama dalam Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) Indonesia, serta Forum Pimpinan Pascasarjana (FORPIMPAS) BKS-PTN Wilayah Barat 2025.

Kegiatan yang berlangsung pada 30–31 Juli 2025 di ZHM Premiere Hotel Padang ini dihadiri oleh ratusan akademisi, praktisi industri, dan pemangku kebijakan, termasuk Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, sebagai keynote speaker.

Prof Rahmawaty, sebagai salah satu akademisi yang turut menjadi bagian dalam kegiatan ini  menekankan urgensi penyelarasan antara pertumbuhan industri kelapa sawit dan pelestarian lingkungan.

“Pengelolaan yang berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis untuk keberlangsungan sumber daya dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya kepada Borneonews pada Rabu, 30 Juli 2025.

Sebelum sesi ilmiah dimulai, para peserta disuguhkan rangkaian kegiatan pembuka berupa tour wisata ke Puncak Lawang, Bukittinggi, dan Istana Pagaruyung pada Rabu, 30 Juli.

Agenda ini bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau sekaligus mengawali pertemuan dengan suasana akrab dan kolaboratif.

Seminar Nasional pada Kamis, 31 Juli akan menghadirkan berbagai panelis yang membahas tantangan dan inovasi dalam pengelolaan limbah sawit, teknologi biomassa, dan peluang ekonomi sirkular. Prof Rahmawaty menyoroti pentingnya riset interdisipliner dalam merancang kebijakan berbasis bukti.

“Kita perlu jembatan antara dunia akademik dan industri agar transformasi menuju sawit hijau bisa terwujud,” imbuhnya.

Selain seminar, hari kedua juga dirangkai dengan pelantikan pengurus baru FORPIMPAS Wilayah Barat periode 2025–2027. Forum ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antar perguruan tinggi dalam merumuskan program pascasarjana yang adaptif terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA/R)