BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalteng Putra sangat dirugikan wasit yang berpihak ke tuan rumah. Ini sangat jelas terlihat ketika sang wasit, Muhammad Irham, memimpin jalanya laga di markas Persita Tangerang berakhir sekitar pukul 21.00 WIB, Sabtu (29/10/2016).
Sejumlah pelanggaran nampak dilakukan Persita Tangerang. Namun pria asal Yogyakarta itu tidak menganggap sebagai pelanggaran. Padahal jelas, tuan rumah menekel beberapa tim Laskar Isen Mulang. Bahkan, gol yang seharusnya tidak gol justru menjadi sebuah gol.
Akibat tidak profesionalnya wasit, Kalteng Putra kembali menelan kekalahan dengan skor 1-2. Kerugian Kalteng Putra dalam laga Indonesia Soccer Champhionship (ISC) 2016 itu sangat besar, mengingat laga tersebut merupakan kunci untuk memiliki peluang lolos dari 16 besar Grub B. Dengan hasil itu pula, perjuangan Kalteng Putra pun kandas meskipun masih ada dua laga tersisa.
"Parah banget wasitnya. Jelas sekali memihak tuan rumah," kata Pelatih Kalteng Putra Eko Tamamie kepada Borneonews, Sabtu malam.
"Kami sangat-sangat dirugikan," imbuh Eko penuh rasa jengkel.
Kick off babak pertama berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB. Seharusnya laga dimulai pukul 15.00 WIB, namun lantaran hujan deras mengguyur disertai sambaran petir sehingga ditunda.
Sementara itu, jalannya laga berlangsung seru. Pemain Kalteng Putra terus berupaya menekan permainan tuan rumah. Anak didik Eko itu juga terus menanamkan kerjasama yang baik sehingga sempat membuat tuang rumah kewalahan.
Umpan bola panjang lebih banyak dilakukan karena kondisi lapangan basah. Persita Tangerang juga mencoba melakukan penyerangan. Keduanya sama-sama memiliki peluang gol namun hingga turun minum skor masih kaca mata.
Gol-gol akhirnya tercipta pada babak kedua. Yakni oleh Egi Maldiansyah menit 60, Aldi Al Achya menit 76 dan gol balasan melalui titik putih oleh Trias Budi pada menit ke 80. pada babak kedua ini diwarnai keberpihakan wasit ke tuan rumah.
Menurut Eko Tamamie, permainan sebenarnya berjalan cukup bagus. Tapi menjadi rusak gara-gara wasit yang memimpin laga tersebut. "Wasit merusak segalanya. Padahal kita sudah sangat profesional," tutur Eko. (BUDI YULIANTO/m)








