BORNEONEWS, Sampit – Di tengah laju pesat ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, Desa Tumbang Ramei di Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur masih menyimpan harapan sekitar 4.000 hektare hutan tropis asli yang masih berdiri kokoh. Namun harapan itu kini terancam oleh aktivitas ekspansi PT Bintang Sakti Lenggana (BSL).
Hutan tersebut bukan sekadar tutupan hijau, tapi rumah bagi tanaman endemik dan kayu langka seperti Ulin, Meranti, Bengkirai, hingga Benuas.
Kepala Desa Tumbang Ramei, Natalis mengungkapkan masyarakat desa setempat selama ini terus menjaga kawasan tersebut secara konsisten dari ancaman alih fungsi lahan.
“Kami tahu memang ada izin yang sudah dicabut oleh pemerintah, tapi itu hanya 200 hektare. Sementara perusahaan masih berupaya menggarap kawasan lain yang masih hutan alami. Ini yang membuat kami khawatir,” ujar Natalis, Jumat, 1 Agustus 2025.
Natalis dan warga lainnya berharap pemerintah mencabut sepenuhnya izin usaha yang mengancam hutan mereka.
Bagi mereka, mempertahankan hutan bukan sekadar soal ruang hidup, melainkan soal masa depan ekologi Kotim dan Kalimantan Tengah secara luas.
"Kalau saat ini memang belum digarap sepertinya mulai melengkapi perizinan untuk menggarap lahan yang ada," imbuhnya.
Berdasarkan data, PT BSL memiliki izin lokasi seluas 9.566 hektare yang tersebar di delapan desa, termasuk Desa Tumbang Ramei, Tumbang Manya, Tumbang Kalang, Tumbang Hejan, hingga Sungai Puring dan Kuluk Telawang.
Izin itu diberikan sebagai bagian dari perluasan usaha perkebunan sawit sejak 1 Oktober 2020. Namun, masyarakat Tumbang Ramei sejak awal menolak ekspansi ke wilayah hutan asli mereka.
Dukungan terhadap upaya warga juga datang dari Bupati Kotim Halikinnor. Beberapa waktu lalu, ia menegaskan komitmennya untuk menjaga hutan Tumbang Ramei sebagai hutan monumental.
Ia bahkan menyebut tengah menyiapkan langkah tegas, termasuk pencabutan izin secara total meski lahan tersebut hampir ditetapkan sebagai Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan.
“Saya ingin jadikan hutan di Tumbang Ramei ini sebagai hutan monumental dan tetap dipertahankan, karena mungkin hutan semacam ini tidak ada lagi yang lain,” kata Halikinnor, beberapa waktu lalu. (DEWI PATMALASARI/R)









