PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam Pembukaan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional BKPSL Indonesia serta FORPIMPAS BKS-PTN Wilayah Barat 2025 yang digelar Kamis, 31 Juli 2025, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup, Nur Adi Wardoyo menyampaikan pentingnya peran kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga agen perubahan yang mampu mendorong transformasi akademik dan ekologis secara nasional.

Menurut Wardoyo, kampus memiliki fungsi strategis dalam verifikasi data lingkungan, pelaksanaan pelatihan tingkat daerah, hingga penyebarluasan hasil riset kepada masyarakat.

"Akademisi harus menyadari urgensi krisis iklim dan dampak urbanisasi serta eksploitasi sumber daya alam. Kita butuh garda akademik yang tidak hanya peka, tapi juga aktif berinovasi," ungkapnya.

Berbagai inovasi ramah lingkungan yang lahir dari dunia kampus mendapat apresiasi dalam sambutannya. Beberapa inovasi yang disebutkan antara lain pengembangan bioplastik, bioenergi, serta teknologi untuk menyediakan air bersih yang terjangkau. Inovasi-inovasi tersebut, menurut

Wardoyo, menjadi harapan baru dalam menghadapi tantangan lingkungan global.
Namun, ia mengungkapkan bahwa hanya kurang dari 15 persen dari inovasi tersebut yang berhasil diterapkan secara luas.

"Ada kesenjangan antara penelitian dan penerapan. Untuk itu, kita perlu memperkuat ekosistem inovasi dengan dukungan inkubator UMKM ramah lingkungan yang dapat mengakselerasi pemanfaatan teknologi," tambahnya.

Di era digital, kampus juga diharapkan memaksimalkan teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan drone untuk mendukung sistem pengawasan lingkungan yang akurat dan berkelanjutan. Ia menilai teknologi ini bukan sekadar alat, tetapi jembatan menuju tata kelola lingkungan yang lebih efisien dan partisipatif.

Terakhir, Wardoyo menegaskan bahwa program Merdeka Belajar harus menjadi ruang kreatif bagi mahasiswa dan dosen dalam menciptakan solusi nyata bagi isu lingkungan.

“Dengan kolaborasi antara pendidikan tinggi, masyarakat, dan sektor swasta, kita bisa melahirkan generasi inovatif yang mencintai bumi bukan hanya secara teori, tapi dalam praktik nyata,” pungkasnya.

Prof Rahmawaty, salah satu akademisi yang terlibat dalam rangkaian kegiatan ini menyambut baik sinyal kemitraan tersebut. Guru Besar di Universitas Sumatera Utara ini mengajak para akademisi untuk menjembatani riset dengan kebijakan.

“Kita tidak bisa bicara tentang sawit berkelanjutan tanpa data, inovasi, dan komitmen bersama,” kata Rahmawaty kepada Borneonews pada Jumat, 1 Agustus 2025.

Seminar ini juga memuat pelantikan pengurus baru FORPIMPAS Wilayah Barat untuk periode 2025–2027. Forum ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif antar-pascasarjana untuk merancang kurikulum dan penelitian yang responsif terhadap isu lingkungan.(TESTI PRISCILLA/R)