KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kabupaten Kapuas menghadapi tantangan dalam rehabilitasi sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Kapasitas panti yang terbatas seringkali menjadi kendala utama, terutama pada panti milik pemerintah yang kerap mengalami overkapasitas. Hal ini menghambat proses pembinaan yang sistematik dan berkelanjutan bagi PMKS.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial Kabupaten Kapuas mengambil langkah konkret dengan menjalin kerjasama dengan berbagai Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).

Kerja sama ini melibatkan panti-panti dengan kategori beragam, mulai dari panti anak, remaja, hingga panti untuk perempuan dan panti umum. Inisiatif ini bertujuan memastikan kesinambungan rehabilitasi sosial bagi PMKS.

Kerja sama dengan LKS ini dianggap sebagai langkah strategis, mengingat panti-panti swasta dapat memberikan dukungan tambahan dalam hal kapasitas dan layanan.

Dengan demikian, LKS mampu membantu meringankan beban panti milik pemerintah sekaligus mempercepat proses kemandirian PMKS agar bisa kembali ke masyarakat.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kapuas, Yanmarto, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada semua panti yang telah berkontribusi melayani warga Kapuas, khususnya bagi mereka dengan kondisi khusus. 

"Terima kasih kepada semua panti yang selama ini sudah melayani warga Kapuas dengan berbagai kondisi. Terutama panti yang bergerak melayani para penderita ODGJ yang trennya terus meningkat," ungkap Kadinsos, Jumat, 1 Agustus 2025.

Kerja sama ini dinilai penting dalam memastikan layanan yang optimal bagi PMKS, termasuk mereka yang menderita gangguan jiwa.

Tren peningkatan jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) turut menjadi perhatian utama. Faktor-faktor penyebab seperti tekanan sosial, ekonomi, dan keluarga menjadi penyumbang utama masalah ini. Oleh karena itu, peran aktif dari keluarga dan masyarakat di luar panti sangat diperlukan dalam merawat dan mendukung penderita ODGJ.

Penanganan ODGJ tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada panti dan lembaga sosial. Keterlibatan keluarga dan masyarakat sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang suportif bagi pemulihan mereka. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada fasilitas rehabilitasi yang ada. (SABRIANOOR/R)