SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

Sejumlah desa dilaporkan mengalami krisis air bersih akibat tidak turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir serta meningkatnya kadar garam di air Sungai Mentaya.

Camat Mentaya Hilir Utara Muslih mengatakan, dalam 10 hari terakhir, wilayah tersebut tidak diguyur hujan sama sekali.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih.

“Dalam minggu-minggu ini kita tahu bahwa curah hujan di wilayah Kabupaten Kotim, khususnya di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, sudah 10 hari tidak turun. Ini membuat kami khawatir akan karhutla, dan lebih dari itu, sekarang juga mulai terjadi krisis air bersih,” kata Muslih, Jumat, 1 Agustus 2025.

Warga yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya, seperti di Desa Bagendang Hulu, Bagendang Hilir, dan Bagendang Permai, kini sangat membutuhkan bantuan air bersih. Biasanya, warga memanfaatkan air hujan untuk minum dan air sungai untuk mandi. Namun, saat ini kondisi Sungai Mentaya telah berubah saat memasuki musim kemarau. 

“Air sungai sudah mulai asin, sementara air hujan juga tidak tersedia. Ini membuat warga kekurangan air bersih,” imbuhnya.

Muslih mengatakan jaringan PDAM memang sudah tersedia di sebagian wilayah kecamatan tersebut, khususnya di sekitar Jalan HM Arsyad. Namun untuk desa-desa yang berada di bantaran sungai, jaringan air bersih belum menjangkau. Sehingga masyarakat hanya mengandalkan bantuan air bersih saat musim kemarau. 

“Untuk itu, kami upayakan agar bantuan air bersih bisa mulai masuk minggu ini,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)