SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit  - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membekali 49 guru SD dengan pelatihan intensif coding dan artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan (Disdik) dengan Yayasan Hasnur Centre.

“Tujuan utama pelatihan adalah meningkatkan kapasitas guru dalam merancang media pembelajaran interaktif berbasis teknologi, terutama di jenjang pendidikan dasar,” kata Kepala Disdik Kotim Muhammad Irfansyah di Sampit, Jumat, 1 Agustus 2025.

Irfansyah menjelaskan pelatihan yang dilaksanakan melalui Program Human-Academic Future Education for Creative Society (HAFECS) ini dirancang memperkuat kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi digital dalam proses belajar mengajar.

Hal ini sejalan dengan kebijakan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menjadikan coding dan AI menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah, bukan mata pelajaran wajib, mulai tahun ajaran 2025/2026.

Kedua mata pelajaran ini merupakan upaya pemerintah untuk membangun generasi yang unggul, dengan keterampilan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman dan mampu menggunakannya untuk hal-hal yang positif.

“Kami ingin guru tidak hanya melek teknologi, tetapi juga menjadi motor penggerak transformasi pendidikan. Terlebih dengan adanya kebijakan dari kementerian ini, guru harus siap menjadi pemandu anak didik mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam pelatihan ini para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mengerjakan proyek-proyek teknologi yang bisa diterapkan di kelas.

Materi pelatihan meliputi pengenalan dasar pemrograman, penggunaan AI sebagai alat bantu pembelajaran, hingga penerapan teknologi untuk menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.

“Salah satu modul yang diberikan adalah transformasi kelas dengan teknologi yang menekankan peran guru sebagai penggerak pembelajaran digital,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Kerja Sama HAFECS, Hafidz Ridha Try Sjahputra menerangkan pelatihan ini disusun dengan pendekatan praktis dan kolaboratif. Para peserta tidak hanya dilatih, tetapi juga ditantang untuk menciptakan solusi bagi pembelajaran.

“Setiap guru diberi kesempatan untuk merancang proyek inovatif yang dapat langsung diimplementasikan di sekolah asal mereka,” ujarnya.