BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Sudah setahun lamanya, bangunan Kantor Desa Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, terus dibiarkan teronggok tak ditempati. Sementara dari pihak pemerintah desa setempat mengaku hingga saat ini masih belum memperoleh kepastian kapan kantor baru itu bisa segera mereka tempati.

 Menurut Kepala Desa Pematang Limau Juharto, masih belum bisa ditempatinya bangunan baru kantor desa itu karena sampai sekarang karena masih belum ada serah terima bangunan antara pemerintah Kabupaten Seruyan melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMDes) kepada pihak pemerintah desa. 

“Entah kapan kami bisa menempati kantor baru itu. Serah terima saja belum dilakukan hingga setahun terakhir ini,” kata Juharto yang ditemui di desanya, Minggu (30/10/2016).

Juharto mengatakan, keberadaan bangunan kantor desa yang awal pembangunannya berlangsung pada 2015 dengan pagu anggaran berkisar di bawah Rp300 juta itu membuat pihaknya sangat mengharapkan bisa secepatnya berfungsi sesuai peruntukan. Sebab sampai sekarang, pemerintah desa masih menempati kantor lama yang terbuat dari bahan kayu yang kondisinya sudah banyak lapuk.

“Karena kantor itu masih belum diserahkan ke kita, terpaksa kita tetap harus berkantor pada bangunan lama yang dulu dibangun pada 1998. Harapan kita, kantor desa yang baru itu bisa segera diserahterimakan untuk ditempati dengan tujuan untuk lebih memaksimalkan peningkatan dan pemberian pelayanan terhadap masyarakat desa yang datang bertandang. Mengingat kantor yang masih kita tempati ini, dinilai sangat kecil. Namun kami tidak berkecil hati. Tetap semangat memberikan pelayanan di tingkat desa ini,” terang Juharto.

Juharto menambahkan, pihaknya bersedia melakukan pinjam pakai bangunan sambil menunggu serah terima bangunan tersebut. 

“Sepertinya kantor baru itu pembangunannya dilakukan dua tahap, karena pada bagian dalam dan luar dinding kantor masih belum dilakukan pengecatan. Kalau bisa dilakukan pinjam pakai, maka kita bisa anggaran dari alokasi dana desa (ADD) untuk biaya penebasan rumput, pembersihan kantor tanpa mengubah struktur atau kondisi bangunan yang ada,” ungkapnya.

Sementara itu sekretaris desa setempat, Jailani, menambahkan bahwa untuk kantor lama yang masih mereka tempati, kondisinya sudah banyak mengalami kerusakan. Selain pada bagian dinding kayu yang sebagian lapuk, atapnya pun sering bocor saat hujan.

Pantauan Borneonews, kondisi bangunan baru kantor desa itu dipenuhi atau dikelilingi oleh rerumputan dan tumbuhan liar yang cukup tinggi. (PARNEN/m)