PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS menegaskan bahwa kekuatan utama dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla bukan sekadar terletak pada teknologi, tetapi pada kesiapsiagaan tim lapangan dan kemitraan erat dengan masyarakat.

Komitmen ini menjadi fondasi pendekatan SSMS dalam menghadapi musim kemarau ekstrem yang berisiko tinggi di Kalimantan Tengah.

Chief of Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio W, menyampaikan bahwa perlindungan kawasan konsesi bukan satu-satunya fokus perusahaan. SSMS secara aktif melibatkan masyarakat desa sekitar dalam upaya pencegahan dan penanganan Karhutla, menjadikan kolaborasi sebagai kunci utama membangun ketahanan lingkungan.

“Kunci menghadapi musim kemarau ekstrem bukan hanya soal alat atau teknologi, tetapi bagaimana kita membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan masyarakat,” ujarnya dalam rilis pada Sabtu, 2 Agustus 2025.

Menurut Henky, SSMS menerapkan pendekatan berbasis nilai dan kesadaran kolektif dalam setiap program pengendalian Karhutla. Upaya ini diwujudkan dalam pembentukan tim respons cepat di lapangan, pelatihan komunitas lokal, serta komunikasi intensif antar pihak untuk memastikan tindakan pencegahan dilakukan secara sistematis dan menyeluruh.

Selain mendorong kesiapsiagaan teknis, SSMS juga menanamkan prinsip keberlanjutan melalui edukasi dan dialog terbuka dengan masyarakat sekitar konsesi. Perusahaan percaya bahwa pencegahan hanya akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama dan saling percaya antar pihak yang terlibat. Kolaborasi ini sekaligus menciptakan sense of ownership dari masyarakat terhadap keberlangsungan lingkungan mereka.

“Ini bukan sekadar kewajiban regulasi, tapi komitmen moral kami untuk menjaga lingkungan, mencegah bencana, dan melindungi masyarakat sekitar,” tambah Henky.

Baginya, pencegahan bukan hanya tugas operasional, tetapi juga refleksi dari nilai dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Langkah SSMS ini dinilai sebagai wujud nyata praktik keberlanjutan yang tidak terjebak dalam prosedur administratif, melainkan berakar pada hubungan manusiawi dan nilai kemanusiaan. Di tengah musim kemarau yang semakin ekstrem, SSMS menunjukkan bahwa keberhasilan mencegah Karhutla tidak cukup dengan teknologi canggih, tetapi dengan membangun solidaritas dan komitmen bersama. (TESTI PRISCILLA/H)