BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrachman memimpin pertemuan penting guna membahas hasil kajian pendukung implementasi B50, yakni pencampuran Bahan Bakar Nabati atau BBN sebanyak 50 persen ke dalam Bahan Bakar Minyak jenis solar.
Pertemuan ini menjadi forum strategis lintas sektor dalam merumuskan kebijakan energi berbasis kelapa sawit yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Eddy menekankan bahwa transisi menuju B50 bukan hanya langkah teknis, tetapi juga mencerminkan komitmen Indonesia terhadap kemandirian energi dan pengurangan emisi karbon.
"Oleh karena itu, penyusunan strategi implementasi harus mengakomodasi berbagai kepentingan, termasuk pasokan bahan baku, keberlanjutan industri sawit, dan kesiapan infrastruktur distribusi energi nasional," kata Eddy dalam rilisnya pada Minggu, 3 Agustus 2025.
Forum ini dihadiri oleh perwakilan lembaga pemerintah, lembaga penelitian, pelaku industri, hingga tenaga teknis, yang bersama-sama menyelaraskan pandangan demi tercapainya roadmap implementasi B50.
Diskusi berlangsung intens seputar dinamika pasokan dan permintaan minyak kelapa sawit di dalam negeri yang menjadi landasan utama kebijakan ini.
"Sebagai bagian dari persiapan menuju B50, BPDP pada tahun 2024 telah menggandeng Kementerian Pertanian serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyusun kajian teknis dan ekonomi," katanya.
Kajian tersebut menjadi dasar penting dalam penentuan kebijakan, dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti keterjaminan pasokan, permintaan pasar, dampak ekonomi, serta implikasi fiskal.
Aspek teknis implementasi B50 telah dikaji secara mendalam oleh Kementerian ESDM melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”. Pengujian ini mencakup evaluasi kompatibilitas BBN 50% terhadap mesin, efisiensi pembakaran, serta dampak jangka panjang terhadap kendaraan bermotor dan infrastruktur energi.
"Sementara itu, aspek pasokan dan ekonomi ditelaah oleh Kementerian Pertanian yang bekerja sama melalui KSO antara PT SUCOFINDO dan APPERTANI (Aliansi Peneliti Pertanian Indonesia)," terangnya.
Kolaborasi ini menghasilkan pemetaan kondisi industri sawit nasional, prediksi tren permintaan, serta skenario pengembangan kapasitas produksi untuk menunjang keberlangsungan suplai bahan baku biodiesel.
Eddy berharap hasil kajian dan diskusi dalam pertemuan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan final implementasi B50.
Ia menegaskan pentingnya sinergi antara sektor hulu dan hilir agar proses transisi menuju energi ramah lingkungan tidak mengganggu kestabilan ekonomi dan tetap menjamin kesejahteraan para pelaku industri.
"Dengan diselenggarakannya pertemuan ini, BPDP menegaskan peran aktifnya dalam mendorong pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan. Langkah menuju B50 dinilai sebagai momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta global energi berkelanjutan," tutur Eddy.(TESTI PRISCILLA/R)









