PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam pemaparan awal oleh tim peneliti, disampaikan proyeksi terbaru terkait produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) nasional yang menunjukkan tren stagnan hingga 2045.

Hal ini disampaikan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrachman yang memimpin pertemuan penting guna membahas hasil kajian pendukung implementasi B50.

"Dengan kondisi saat ini, jumlah produksi diperkirakan hanya mencapai sekitar 60 juta ton, jauh dari target yang diharapkan. Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, antara lain stagnasi produktivitas di sektor hulu, keterbatasan pembukaan lahan baru, dan meningkatnya ancaman penyakit tanaman," kata Eddy dalam rilisnya pada Minggu, 3 Agustus 2025.

Salah satu ancaman utama yang menjadi sorotan adalah Ganoderma, penyakit tanaman yang dinilai lebih berbahaya dibandingkan dampak El Nino maupun La Nina.

Penyakit ini diprediksi akan memberi dampak serius terhadap keberlangsungan produksi sawit nasional. Menyikapi tantangan tersebut, tim peneliti merekomendasikan strategi luar biasa (extraordinary measures) yang meliputi peningkatan produktivitas tanaman, optimalisasi lahan terlantar, serta pemanfaatan teknologi dan input pertanian yang efisien.

"Di sisi lain, kebutuhan CPO dalam negeri diperkirakan mencapai 17.5 hingga 18 juta ton seiring persiapan implementasi skema B50. Skema ini menargetkan penggunaan biodiesel yang lebih tinggi, dan akan mulai diterapkan pada tahun 2026," katanya lagi.

Menurut hasil kajian KSO Sucofindo dan Appertani, peningkatan konsumsi dalam negeri diprediksi akan berdampak langsung pada penurunan volume ekspor.

Penerapan B50 diperkirakan akan menyebabkan shock signifikan pada pasar CPO, terutama pada tahun pertama implementasinya.

Proyeksi menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi nasional tidak sejalan dengan lonjakan kebutuhan domestik, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Industri perlu bersiap menghadapi tekanan ini dengan strategi adaptif dan transformasi kebijakan produksi.

Data menunjukkan bahwa tren ekspor CPO akan mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai dampak langsung dari peningkatan konsumsi dalam negeri.

"Jika dibandingkan dengan ekspor 2024, total ekspor setelah penerapan B50 diproyeksikan akan turun sebesar 11.40 persen. Angka ini menjadi sinyal penting bagi pelaku industri untuk mulai mengkaji ulang orientasi pasar dan strategi ekspor," terangnya.

Sebagai langkah antisipatif, para ahli menyarankan perlunya sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga riset, untuk memastikan ketahanan produksi dan distribusi CPO nasional.

Dengan tantangan kompleks yang dihadapi, transformasi kebijakan dan penguatan sektor hulu menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan keberlanjutan ekspor.(TESTI PRISCILLA)