BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year/y-on-y untuk kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,18 persen pada Juli 2025.
Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa peningkatan indeks ini berasal dari naiknya angka indeks harga konsumen dari 101,09 pada Juli 2024 menjadi 101,27 pada Juli tahun ini.
Subkelompok sewa dan kontrak rumah menjadi pendorong utama inflasi y-on-y di kelompok ini, dengan laju inflasi mencapai 1,02 persen. Sebaliknya, subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga justru mengalami deflasi sebesar 0,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Data ini menunjukkan dinamika komoditas yang saling memengaruhi dalam struktur kebutuhan dasar rumah tangga," ujar Agnes pada Senin, 4 Agustus 2025.
Kontribusi kelompok perumahan terhadap inflasi y-on-y tercatat sebesar 0,02 persen. Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar berasal dari sewa rumah dengan andil 0,04 persen, disusul kontrak rumah dan tarif air minum PAM yang masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Di sisi lain, bahan bakar rumah tangga memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, sementara seng menyumbang deflasi sebesar 0,01 persen.
Selain perbandingan tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) untuk kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen pada Juli 2025.
"Meski relatif kecil, inflasi bulanan ini tetap menjadi perhatian karena mencerminkan tren konsumsi masyarakat dalam jangka pendek," tutur Agnes.
Bahan bakar rumah tangga dan kontrak rumah menjadi komoditas utama penyumbang inflasi m-to-m, masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen. Hal ini mencerminkan adanya penyesuaian harga dari sektor energi dan kebutuhan dasar rumah tangga dalam periode satu bulan terakhir.
Agnes menambahkan, pemantauan inflasi di sektor perumahan sangat penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
"Kondisi harga yang stabil di sektor ini menjadi fondasi kesejahteraan rumah tangga. Maka, kami terus mengawal pergerakan harga dan memastikan data yang tersaji dapat menjadi rujukan bagi kebijakan pemerintah daerah," pungkasnya.
Sementara itu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga di Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 0,30 persen pada Juli 2025.
Agnes mengungkapkan bahwa kenaikan indeks harga dari 102,94 pada Juli 2024 menjadi 103,25 menjadi indikator utama inflasi ringan di sektor tersebut.
Subkelompok barang pecah belah dan peralatan makan minum mengalami lonjakan harga tertinggi, yaitu sebesar 2,04 persen secara y-on-y.
“Kenaikan harga barang pecah belah menunjukkan adanya tekanan dari sisi konsumsi rumah tangga, khususnya pada peralatan makan dan dapur,” kata Agnes. (TESTI PRISCILLA)









