BORNEONEWS, Palangka Raya - Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Kalimantan Tengah menunjukkan tren positif dengan penurunan Gini ratio pada Maret 2025 sebesar 0,292. Angka ini mengalami penurunan 0,012 poin dibandingkan dengan September 2024 yang tercatat sebesar 0,304. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan indikasi membaiknya distribusi pengeluaran masyarakat di provinsi tersebut.
“Penurunan Gini ratio ini mencerminkan meningkatnya pemerataan pengeluaran, terutama hasil dari berbagai program pengentasan kemiskinan dan peningkatan akses ekonomi di berbagai wilayah,” ungkap Agnes pada Senin, 4 Agustus 2025.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, daerah perkotaan mencatat Gini ratio sebesar 0,310 pada Maret 2025, turun dari 0,322 pada periode sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan bahwa kesenjangan pengeluaran antarpenduduk di wilayah urban mulai menyempit. Sementara itu, di wilayah perdesaan, Gini ratio juga mengalami penurunan dari 0,282 menjadi 0,272.
Agnes menjelaskan bahwa secara historis, ketimpangan di wilayah perdesaan cenderung lebih rendah dibandingkan perkotaan.
“Daerah perdesaan memiliki struktur pengeluaran yang lebih homogen, sehingga ketimpangan relatif lebih kecil dan mudah dikendalikan,” katanya.
Berdasarkan klasifikasi ketimpangan versi Bank Dunia, distribusi pengeluaran oleh kelompok penduduk 40 persen terbawah di Kalimantan Tengah mencapai 21,94 persen. Angka ini menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran kelompok tersebut mulai meningkat, meskipun masih terdapat ruang untuk optimalisasi.
Secara rinci, distribusi pengeluaran kelompok terbawah di wilayah perkotaan tercatat sebesar 20,64 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 23,22 persen. Agnes menegaskan bahwa perhatian terhadap keseimbangan pengeluaran di kelompok terbawah menjadi krusial dalam menekan angka ketimpangan secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/j)









