BORNEONEWS, PalangkaRaya - Industri perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah menunjukkan kontribusi sosial yang signifikan melalui program Corporate Social Responsibility atau CSR.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah tahun 2023, sebanyak 202 Perusahaan Besar Swasta atau PBS yang mengelola lahan seluas 2,038 juta hektare telah menggelontorkan CSR senilai Rp226 miliar kepada masyarakat.
Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menyampaikan bahwa Kalimantan Tengah menempati posisi kedua terbesar setelah Riau dalam hal luasan kebun sawit. Menurutnya, angka CSR tersebut mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat, meski tantangan distribusi masih perlu ditinjau ulang secara menyeluruh.
"Dari total dana CSR tersebut, sekitar 53 persen diarahkan untuk kegiatan keagamaan, adat, dan sosial. Ini menandakan bahwa perusahaan sangat peka terhadap nilai-nilai komunitas lokal dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat," ujar Rawing Rambang kepada Borneonews pada Senin, 4 Agustus 2025.
Ia juga menyoroti bahwa sektor pendidikan menerima alokasi sekitar 25,65 persen dari total CSR. Program tersebut mencakup bantuan sekolah, pelatihan, dan dukungan fasilitas pendidikan di sekitar wilayah perkebunan. Rawing menyebutkan bahwa upaya ini diharapkan dapat meningkatkan akses dan mutu pendidikan, terutama di daerah pedesaan.
Adapun sebesar 10,10 persen dari dana CSR digunakan untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Perusahaan tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga berupaya menciptakan mata pencaharian alternatif, mendukung koperasi, dan membuka peluang usaha yang berdampak langsung pada penghasilan warga," kata Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.
Rawing menambahkan bahwa arah strategis pengelolaan CSR ke depan harus lebih terintegrasi dan memperhatikan pembangunan berkelanjutan.
"CSR bukan hanya soal alokasi dana, tetapi bagaimana menciptakan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan masyarakat dan lingkungan," tegasnya.
Dengan iklim investasi yang semakin kondusif dan dukungan program pemerintah, seperti Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan swasembada pangan dan energi, Rawing optimis bahwa peran perusahaan perkebunan akan semakin sentral dalam mendukung pembangunan daerah.
GAPKI Kalteng berharap seluruh PBS dapat terus memperkuat sinergi dengan masyarakat dan pemerintah dalam penyaluran CSR.
"Jika dikelola tepat, CSR akan menjadi jembatan antara industri dan komunitas, menuju Kalteng yang berdaya saing dan berkeadilan sosial," pungkas Rawing yang juga Dosen di Universitas Kristen Palangka Raya ini. (TESTI PRISCILLA/H)









