BORNEONEWS, Kotawaringin Barat - Sesungguhnya 90 persen stroke bisa dicegah. Caranya, melalui pola makan dan cara hidup sehat. Selain itu, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter. Stroke, biasa terjadi karena perubahan usia, terjadi pada orang dengan riwayat penyakit yang menjadi gejala stroke, kegemukan, pola diet tinggi, dan perokok.
"Penanganan penyakit stroke bisa melalui tindakan operasi. Namun, tidak semua penyakit stroke harus ditangani dengan tindakan operasi," kata dokter Sukono Djojoatmodjo Sp.S, dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, saat memaparkan materi dalam Seminar Penanganan Stroke di Ballroom Hotel Grand Kecubung, di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Sabtu (29/10/2016).
Seminar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Stroke sedunia itu, hasil kerja sama Rumah Sakit Citra Husada (RSCH) Pangkalan Bun dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Kobar.
Menurut Sukono, stroke ada dua macam. Yakni stroke pendarahan dan penyumbatan. Jika stroke pendarahan, mau tidak mau pasien harus dioperasi agar darah beku bisa dikeluarkan dari dalam otak. Sedangkan stroke penyumbatan biasanya dokter melakukan pemasangan selang pada pembulu darah yang tersumbat.
"Keluarga dan pasien sering menolak untuk operasi, namun kita sebagai dokter harus memberikan pengertian dan menjelaskan risikonya," kata Dia.
Sukono menjelaskan, penanganan pascastroke sebelum delapan jam akan lebih mudah ditangani. Namun, jika stroke sudah terjadi lebih dari delapan jam, penanganan pasien stroke lebih kepada tujuan, agar stroke yang diderita tidak semakin parah.
Dokter Rumah Sakit Premier Jatinegara itu mengatakan, penyebab terjadinya penyakit stroke bermacam-macam. Seperti, kelainan jantung, kemungkinan kualitas darah, karena darah yang kental membuat seseorang mudah terserang stroke, pembulu darah tersumbat dan atau pembulu darah pecah.
Sementara itu, Direktur Utama RSCH Pangkalan Bun dokter Hendry Jan mengungkapkan, pihaknya akan terus berusaha memberikan pelayanan prima bagi masyatakat di Kabupaten Kobar dan sekitarnya. "Kegiatan seperti ini rutin kami gelar. Untuk pelayanan, kami akan terus memberikan yang terbaik."
Selain pelayanan prima, terang dokter Hendry, pihaknya juga terus menyiapkan sejumlah fasilitas unggulan pada RSCH Pangkalan Bun. Termasuk dibukanya ruang perawatan berstandar VIP dan VVIP.
"Kami buka Ruang Amarilis kelas VIP dan VVIP dengan penambahan sejumlah fasilitas pendukung," ujarnya.
Bahkan, imbuh Dia, pada 2017 pihaknya akan mendatangkan CT-Scan dan sejumlah peralatan medik dengan sistem canggih. Kerjasama dengan sejumlah pihak juga mulai dilakukan. "Selain pemegang kartu asuransi swasta, RSCH Pangkalan Bun juga akan melayani pasien BPJS." (Fahruddin Fitriya/N).








