BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah kembali melaksanakan pengambilan data untuk penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra. Kegiatan ini berlangsung di Desa Balai Riam, Kabupaten Sukamara, pada tanggal 28 Juli hingga 1 Agustus 2025, dengan fokus utama pada dokumentasi bahasa dan sastra Ruku Mapam yang merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal.
Kepala Balai Bahasa Kalteng, Sukardi Gau, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari program nasional yang bertujuan memetakan keragaman bahasa dan sastra di seluruh Indonesia.
“Pengambilan data ini penting untuk memastikan bahwa bahasa dan sastra daerah, seperti Ruku Mapam, tidak hilang ditelan zaman. Kami berupaya mendokumentasikan dan melestarikannya sebagai bagian dari identitas bangsa,” kata Sukardi dalam rilisnya pada Rabu, 6 Agustus 2025.
Tim pengumpul data terdiri dari peneliti bahasa, ahli sastra, dan tenaga teknis yang melakukan wawancara, observasi, serta pencatatan langsung dari penutur asli dan pelaku sastra setempat. Mereka mendokumentasikan berbagai aspek, mulai dari kosakata, struktur bahasa, hingga bentuk-bentuk sastra lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Desa Balai Riam.
Sukardi menambahkan bahwa bahasa Ruku Mapam memiliki kekhasan tersendiri yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Sukamara.
“Bahasa ini tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium ekspresi seni dan tradisi. Sastra lisan yang berkembang di dalamnya mengandung pesan moral dan sejarah komunitas,” katanya.
Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra yang sedang disusun akan menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, kebudayaan, dan penelitian. Selain itu, hasil dokumentasi ini juga diharapkan dapat mendorong pelestarian bahasa daerah melalui berbagai program revitalisasi dan pengajaran di sekolah-sekolah lokal.
Dengan selesainya pengambilan data di Desa Balai Riam, Balai Bahasa Kalteng akan melanjutkan proses analisis dan penyusunan laporan. Sukardi berharap hasil kerja ini dapat memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan bahasa dan sastra daerah.
“Kami mengajak semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk turut serta dalam upaya pelestarian ini,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)









