PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Selain peningkatan produksi, BPS Kalimantan Tengah juga mencatat perluasan signifikan pada lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kelapa sawit. Pada Triwulan II-2025, luas TBM naik sebesar 1,26 persen secara triwulanan dan 8,32 persen secara tahunan.

Pengamat Ekonomi Perkebunan Kalteng, Rawing Rambang, menilai tren ini sebagai sinyal kuat bahwa sektor kelapa sawit masih memiliki daya tarik tinggi bagi investor.

“Kenaikan luas TBM menunjukkan bahwa pelaku usaha, baik perusahaan maupun pekebun, sangat berminat mengembangkan tanaman ini. Artinya, mereka melihat prospek keuntungan yang menjanjikan,” kata Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 6 Agustus 2025.

TBM merupakan fase awal dalam siklus produksi sawit, di mana tanaman belum menghasilkan buah. Perluasan lahan TBM mencerminkan ekspansi dan investasi baru yang akan berkontribusi pada produksi di masa depan.

“Ini bukan hanya soal hari ini, tapi juga tentang kesiapan menghadapi permintaan pasar dalam beberapa tahun ke depan,” tambah Rawing yang juga Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalteng ini. 
Ia juga menekankan bahwa ekspansi ini akan berdampak positif terhadap ekonomi daerah.

“Dengan makin luasnya tanaman sawit, Kalimantan Tengah akan menambah produksi TBS dan CPO, yang berarti peningkatan pendapatan daerah dan pusat,” ujarnya.

Namun, Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini mengingatkan pentingnya tata kelola yang berkelanjutan.

“Perlu ada pengawasan agar ekspansi ini tidak menimbulkan konflik lahan atau kerusakan lingkungan. Investasi harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan,” katanya.

Dengan tren perluasan TBM yang konsisten, Kalimantan Tengah diposisikan sebagai wilayah strategis dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional. (TESTI PRISCILLA/H)