BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa sektor pertanian mengalami dinamika signifikan pada triwulan II-2025. Produksi padi mengalami penurunan tajam sebesar 22,87 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), dan turun 16,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (y-on-y).
“Puncak panen telah terjadi di bulan Maret, sehingga hasil di triwulan kedua relatif lebih rendah,” ujar Agnes pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Penurunan ini menurut Agnes turut dipengaruhi oleh pergeseran musim panen. Menurut Agnes, pada tahun 2024 puncak panen terjadi di triwulan kedua, sedangkan pada 2025 bergeser ke triwulan pertama.
“Perubahan pola musim tanam ini berimplikasi langsung pada output pertanian yang menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah,“ tuturnya.
Meski produksi padi menurun, sektor peternakan menunjukkan tren positif. Pemotongan daging sapi dan kambing meningkat signifikan, masing-masing sebesar 88,82 persen dan 71,22 persen secara q-to-q. Secara tahunan, produksi hewan kurban juga meningkat, dengan sapi naik 17,41 persen dan kambing melonjak hingga 44,01 persen.
“Peningkatan ini tak lepas dari momen Iduladha dan kebutuhan konsumsi lokal,” jelas Agnes.
Komoditas kelapa sawit juga menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Produksi meningkat baik secara q-to-q maupun y-on-y, didukung oleh perluasan area tanaman belum menghasilkan atau TBM.
“Luas TBM tercatat naik 1,26 persen secara q-to-q dan melonjak hingga 8,32 persen dibandingkan triwulan II-2024. Hal ini menjadi sinyal positif terhadap investasi jangka panjang di subsektor ini,“ katanya.
Di tengah fluktuasi komoditas lain, produksi karet turut mencatatkan peningkatan. BPS mencatat kenaikan produksi sebesar 2,73 persen secara q-to-q dan 0,13 persen secara y-on-y. Meskipun relatif kecil, pertumbuhan ini menunjukkan stabilitas yang penting dalam mendukung pendapatan petani lokal.
Agnes menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Kalimantan Tengah. Meski ada tekanan dari komoditas pangan, peningkatan di peternakan dan perkebunan memberi kompensasi terhadap laju pertumbuhan.
“Diversifikasi produksi menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan sektor ini,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya edukasi dan dukungan kebijakan agar petani dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim dan musim. Pergeseran masa tanam dan panen kini menjadi tantangan baru yang memerlukan intervensi, baik dari sisi teknologi maupun manajemen usaha tani.
Meski terjadi penurunan pada komoditas utama, Agnes menyampaikan optimisme terhadap keberlangsungan sektor pertanian. Pertumbuhan pada subsektor lain menunjukkan bahwa ekonomi Kalimantan Tengah memiliki daya tahan yang kuat, terutama jika didukung dengan strategi berkelanjutan dan pemanfaatan potensi lokal. (TESTI PRISCILLA/j)









