PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Forum Keilmuan dan Strategi Teknologi Indonesia atau KSTI 2025 resmi digelar dengan mengusung tema “Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi Melalui Penguasaan Sains dan Teknologi”. Acara berskala nasional dan internasional ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan lebih dari 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, teknokrat, CEO BUMN, pelaku industri strategis, hingga diaspora Indonesia. KSTI 2025 menegaskan pentingnya sinergi antara riset, pendidikan tinggi, dan industri dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis teknologi.

“Forum ini menyoroti delapan sektor prioritas nasional yang dinilai krusial bagi kemandirian teknologi Indonesia: pangan, energi, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor), serta material dan manufaktur maju,“ kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman dalam rilisnya pada Kamis, 7 Agustus 2025.

Pemilihan sektor-sektor ini mencerminkan kebutuhan strategis Indonesia dalam memperkuat daya saing global dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.

Rangkaian kegiatan KSTI 2025 mencakup diskusi panel, executive session bersama kementerian dan lembaga strategis, sharing session dengan peraih Nobel dan akademisi dunia, serta pameran hasil riset dan inovasi industri. Salah satu sorotan utama dalam pameran tersebut adalah Inovasi Katalis Merah-Putih dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dikembangkan melalui kolaborasi riset dengan dukungan dana dari BPDP.

Riset bertajuk “Inovasi Lanjut Katalis dan Teknologi Bensin Sawit serta Pengembangan Produksi Percontohan Mix Industrial Vegetable Oil (MIVO) dan Minyak Makan Sehat dari Kelapa Sawit” ini merupakan kelanjutan dari proyek tahun 2020 yang dipimpin oleh Prof. Subagjo. Fokus utama riset adalah pengembangan katalis lokal untuk co-processing minyak sawit menjadi bahan bakar nabati (bensa), sebagai bagian dari upaya mewujudkan energi alternatif berbasis sumber daya dalam negeri.

“Melalui program riset inisiatif ini, BPDP mendorong pengembangan skala produksi percontohan untuk menghasilkan bensa dari campuran minyak industri berbasis kelapa sawit,“ tutur Eddy.

Targetnya adalah menciptakan bahan bakar dengan harga kompetitif yang dapat diterapkan pada skala mikro, termasuk koperasi. Inovasi ini diharapkan mampu memperluas akses energi terbarukan di tingkat lokal dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Menariknya, riset ini juga menghasilkan produk minyak makan sehat dari hasil samping MIVO, menjadikannya solusi ganda yang menyentuh sektor energi sekaligus pangan.

“Pendekatan ini menunjukkan potensi besar kelapa sawit sebagai komoditas strategis yang tidak hanya menopang kebutuhan energi, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan masyarakat,“ jelasnya.

Sebagai bentuk komitmen lanjutan, para pemangku kepentingan menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang Pengembangan Pengolahan Minyak Nabati menjadi Bahan Bakar Nabati. Penandatanganan ini menjadi simbol keseriusan Indonesia dalam membangun ekosistem teknologi berbasis sawit yang berkelanjutan dan inklusif.

KSTI 2025 tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga panggung bagi inovasi yang berakar pada kekuatan lokal. Dengan dukungan kebijakan dan pendanaan yang tepat, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi pemain utama dalam teknologi energi terbarukan dan industri strategis berbasis sumber daya alam tropis. (TESTI PRISCILLA/Y)