BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Hendra Sia mendorong Pertamina untuk menggencarkan sosialisasi terkait proses transisi tabung gas elpiji 12 kilogram (kg) warna biru dan ungu ke tabung Bright Gas warna merah muda (pink).
Ia juga meminta agar agen elpiji diberikan penegasan untuk tetap menerima penukaran tabung lama dari pangkalan dan outlet.
“Kita dorong pertamina agar masih memberikan waktu untuk pergantian tabung berwarna biru demi kemudahan masyarakat,” ujar Hendra Sia, Kamis, 7 Agustus 2025.
Dirinya mendukung transisi tersebut namun berharap implementasi di lapangan benar-benar berpihak kepada masyarakat. Sosialisasi harus masif, jelas, dan agen wajib ikut aturan. Dirinya ingin masyarakat tidak dirugikan, apalagi harus beli tabung baru di tengah kondisi sulit seperti ini.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah konsumen elpiji 12 kilogram (kg) di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur mengeluhkan tidak bisa lagi mengisi ulang tabung gas elpiji berwarna biru dan ungu. Kondisi ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan membuat warga kebingungan dan terbebani ekonomi.
Seorang warga Sampit, Pardie, mengungkapkan, sebelumnya tabung berwarna biru dan ungu masih dapat digunakan untuk penukaran isi ulang gas. Namun kini, hanya tabung berwarna merah muda (pink) yang diterima oleh penjual. Bahkan kondisi itu terjadi di berbagai pangkalan seperti di Jalan Hasan Mansur, MT Haryono, Pelita, dan Kapten Mulyono.
"Dulu memang pernah ada informasi bahwa tabung biru akan ditarik oleh Pertamina, tapi faktanya di lapangan tabung itu masih tetap beredar. Sehingga kami masih menggunakannya. Tapi beberapa minggu terakhir ini saya kesulitan mau isi ulang," kata Pardie, yang tinggal di Jalan Sudirman ini, Rabu, 6 Agustus 2025.
Pardie menambahkan, kondisi ini dirasa cukup memberatkan. Pasalnya, harga pembelian tabung elpiji 12kg dan isi yang baru bisa mencapai Rp700 ribuan, jauh berbeda jika hanya melakukan isi ulang yang berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp220 ribu.
“Konsumen merasa dirugikan karena kalau harus beli tabung baru harganya sekitar 700 ribu. Sementara kondisi ekonomi sekarang sedang sulit. Kalau isi ulang kan hanya sekitar 200 sampai 220 ribu, ujarnya.
la berharap ada kejelasan informasi dari pihak berwenang, khususnya Pertamina, terkait hal tersebut. Jika pun sudah tidak dapat diisi ulang lagi, harus ada sosialisasi dan solusi yang jelas.
Sedangkan informasi dari salah satu pangkalan elpiji menyebutkan, baru sejak awal bulan Juli lalu agen meminta mengumpulkan elpiji 12kg warna biru untuk ditukarkan ke tabung Bright Gas warna pink. Sehingga dirinya tidak menerima lagi penukaran elpiji 12kg warna biru karena takut agen tidak menerima.
Sementara itu, Asisten Tim Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Rayon II Kalimantan Tengah, Dodi mengakui pihaknya tengah menggencarkan penarikan tabung elpiji warna biru dan ungu di wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Penarikan ini merupakan bagian dari upaya transisi ke penggunaan Bright Gas warna merah muda (pink), sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat.
"Peraturan pemerintah pusat ini memang sudah lama, tetapi kami tidak serta merta melakukan penarikan. Baru dua bulan terakhir kami gencarkan di Sampit ini," kata Dodi, Rabu, 6 Agustus 2025.
Lanjutnya, masyarakat bisa menukar tabung elpiji biru dan ungu di outlet atau pengecer resmi menjadi tabung Bright Gas warna pink. Selanjutnya agen bertugas mengumpulkan tabung yang ditarik untuk selanjutnya ditukarkan di SPBE.
"Penukaran ini masih berlangsung. Selama masih ada konsumen yang ingin menukar, akan tetap kami layani. Penukaran tabung gas warna biru ke Bright Gas pink gratis, konsumen hanya membayar isi ulangnya saja," ujar Dodi.
Disinggung soal membuat outlet khusus penukaran elpiji warna birudan ungu ke bright gas, pihaknya justru menegaskan, jika ada agen atau pangkalan yang menolak penukaran dengan alasan SPBE tidak menerima, masyarakat bisa melaporkannya langsung ke Pertamina. "Kami akan memberikan teguran kepada agen tersebut agar tetap melayani penukaran sesuai aturan," katanya.
Lebih lanjut, Dodi menyebut saat ini pun barang tertahan membuat stok elpiji terbatas. Sebab Kotim masih bergantung pengiriman pasokan elpiji dari Banjarmasin karena bengkel pemeliharaan tabung gas ada di sana. (DEWI PATMALASARI/H)









