BORNEONEWS, Sampit – Film pendek berjudul Ternyata Aku Korban karya komunitas 20/20 vision yang di dalamnya tergabung pelajar SMA Negeri 1 Sampit dan MAN Kotim sukses menarik perhatian. Film tersebut merupakan karya kolaboratif yang mengangkat isu tentang perundungan (bullying), dan diproduksi khusus untuk memperingati Hari Anak Nasional.
Pemeran utama dalam film ini adalah Destry Adelia, siswi SMAN 1 Sampit yang memerankan karakter korban bullying. Dalam keterangannya, Destry mengatakan film tersebut menceritakan realita perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
"Harapan saya, semoga kita semua bisa sadar dan peka bahwa perundungan adalah tindakan kriminal yang berdampak besar pada masa depan seseorang," ujarnya, Kamis, 7 Agustus 2025.
Produksi film ini hanya memakan waktu satu hingga dua minggu. Meski film tersebut telah diunggah melalui akun youtube, Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur bekerja sama dengan komunitas 20/20 vision menggelar nonton bareng (nobar) bersama pelajar di Gedung Serba Guna Sampit.
Salah satu pemeran lainnya, Zenzia Taulina S, juga siswi SMAN 1 Sampit, berperan sebagai sahabat karakter utama yang mendorong korban untuk berani membela diri. Zenzia juga ikut terlibat dalam penulisan skenario dan pemilihan aktor dalam film tersebut.
"Kami merasa sangat relate dengan tema ini karena kami sering menjadi saksi, bahkan kadang tanpa sadar terlibat dalam kasus bullying di sekolah. Oleh karena itu, kami sangat bisa menghayati perannya," kata Zenzia.
Total ada 13 siswa dari SMAN 1 Sampit yang terlibat sebagai pemeran, sementara kru teknis seperti kameramen dan editor berasal dari MAN Kotim. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pelajar juga bisa berperan aktif dalam menyuarakan isu sosial melalui karya film.
Film Ternyata Aku Korban tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat luas, tapi juga menjadi pengalaman pertama bagi para pelajar yang sebelumnya hanya berkecimpung dalam karya film pendek.
"Ini pertama kalinya saya terlibat dalam produksi film. Saya sangat bersyukur dan bahagia bisa berkontribusi," tambah Zenzia.
Adapun pesan utama dari film tersebut adalah ajakan untuk tidak melakukan bullying dalam bentuk apa pun, serta pentingnya membangun lingkungan yang sehat, suportif, dan saling menghargai, khususnya di kalangan remaja yang sedang mengalami masa pubertas.
Film ini diharapkan dapat menjadi pemantik diskusi di sekolah-sekolah dan komunitas remaja agar lebih peduli terhadap isu perundungan yang masih marak terjadi. (DEWI PATMALASARI/j)









