BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Sekolah Khusus Negeri 1 Pangkalan Bun, Dwi Haryono, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap penyelenggaraan edukasi keuangan bagi pelajar penyandang disabilitas yang digagas oleh OJK Provinsi Kalimantan Tengah bersama PERBARINDO.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi merupakan bentuk nyata pengakuan terhadap hak dan potensi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kegiatan ini memberikan ruang yang setara bagi anak-anak kami untuk belajar mengelola keuangan dan menabung sejak dini. Ini bukan hanya tentang literasi keuangan, tetapi tentang pengakuan bahwa mereka juga punya hak dan kesempatan yang sama,” ujar Dwi dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan edukasi keuangan yang digelar secara hybrid seperti dalam rilis OJK Kalteng pada Jumat, 8 Agustus 2025.
Dwi menekankan bahwa pelajar disabilitas sering kali terpinggirkan dalam program-program pendidikan umum, termasuk literasi keuangan. Oleh karena itu, inisiatif inklusif seperti ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian mereka. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah khusus di Kalimantan Tengah.
Sebelumnya, OJK Kalteng mengungkapkan bahwa jumlah rekening pelajar di seluruh BPR wilayah Kalimantan Tengah telah mencapai 12.032 dengan total dana tersimpan sebesar Rp14,99 miliar. Capaian ini menunjukkan antusiasme pelajar, termasuk mereka yang berasal dari sekolah khusus, dalam membangun kebiasaan menabung dan memahami pentingnya pengelolaan keuangan.
Kepala OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, menyambut baik dukungan dari pihak sekolah dan menegaskan bahwa inklusi keuangan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Kami percaya bahwa pelajar disabilitas memiliki potensi besar. Dengan akses dan edukasi yang tepat, mereka bisa menjadi bagian aktif dari ekosistem keuangan nasional,” ujarnya.
Kegiatan edukasi ini menjadi momentum penting dalam mendorong kesetaraan dan pemberdayaan pelajar disabilitas. Sinergi antara regulator, lembaga keuangan, dan institusi pendidikan diharapkan dapat memperkuat fondasi literasi keuangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masa depan generasi muda Indonesia. (TESTI PRISCILLA/H)









