SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Riskon Fabiansyah menilai pengembangan sektor pariwisata tidak selalu membutuhkan anggaran besar.

Menurutnya, yang terpenting adalah kreativitas dalam mengemas potensi wisata daerah agar menarik minat wisatawan.

Salah satu contoh yang disorot adalah Pantai Ujung Pandaran. Riskon mengatakan, pantai ini sudah menelan biaya pembangunan yang cukup besar sehingga akan sangat disayangkan jika tidak difungsikan secara optimal.

“Hasil kaji banding kami ke Barito Kuala (Batola) menunjukkan, mengemas pariwisata tidak harus ribet dan memakan biaya besar. Di sana, mereka rutin menggelar festival layang-layang setahun sekali dan mampu menarik peserta dari luar negeri. Konsep seperti ini bisa kita terapkan di Ujung Pandaran,” ujarnya, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Riskon menambahkan, masyarakat Kotim memiliki minat besar terhadap permainan layang-layang sehingga kegiatan ini berpotensi menjadi daya tarik wisata baru. Apalagi, fasilitas di Ujung Pandaran dinilai memadai untuk menggelar even tersebut.

Selain itu, ia menyoroti pola pengelolaan aset wisata di beberapa daerah lain yang diserahkan kepada pemerintah desa.

Cara ini dinilai efektif karena pengelolaan lebih terpantau, dapat dikembangkan berdasarkan kearifan lokal, dan pemerintah kabupaten bisa fokus pada promosi keluar daerah.

“Kita punya keterbatasan sumber daya manusia untuk memelihara aset. Kalau desa yang kelola, mereka lebih dekat dan paham kebutuhan setempat, sementara kabupaten fokus promosi,” tambahnya.

DPRD Kotim berharap ke depan ada inovasi dan terobosan dalam pengembangan sektor pariwisata, sehingga potensi daerah seperti Pantai Ujung Pandaran bisa menjadi destinasi unggulan tanpa membebani anggaran secara berlebihan. (DEWI PATMALASARI/R)