BORNEONEWS, Palangka Raya - Sidang kasus korupsi sumur bor, dengan kerugian negara Rp154 juta digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Palangka Raya, Senin (31/10/2016). Kondisi geologis diduga menjadi penyebab pekerjaan itu gagal. 

Pada tahun 2015, di Desa Pematang Kecamatan Kapuas Kuala Kabupaten Kapuas, pemerintah desa setempat memprogramkan pembangunan 10 unit sumur bor. Pelaksanaannya menghabiskan Rp164 juta dari anggaran dana desa setempat.

Namun, dari 10 unit, hanya 1 sumur bor yang mengeluarkan air tawar layak konsumsi. Sementara sisanya lagi, mengeluarkan air dengan rasa asin bahkan ada yang tak mengeluarkan air sama sekali.

Polres Kapuas kemudian melakukan penyidikan yang berujung ditetapkannya H Subil, kepala desa setempat sebagai tersangka. Dia didakwa dengan pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 U RI  31/1999 jo UU 20/2001 tantang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 

I Made alias Sudik, warga Basarang, salah satu saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) mengatakan, mereka menggali tiga sumur bor. Adapun biaya untuk satu titik sumur bor dianggarkan Rp12 juta.

Namun saat pelaksanaannya, kata Made, sangat sulit mendapatkan air tawar di Desa Pematang, karena kondisi tanahnya. Bahkan untuk titik yang berada di RT 1, mereka suda mengebor hingga kedalaman 180 meter, namun tak juga didapatkan air.

"Ada yang sampai 100 meter tapi airnya asin. Kita lanjutkan sampai 126 meter, airnya tawar dan sedikit. Ada yang kita bor sampai 180 meter tapi tidak juga dapat air," papar Made.

Pria yang mengaku sudah 10 tahun lebih menekuni pekerjaan pembuatan sumur bor ini menduga, di wilayah tersebut sumber air tawar di dalan tanah sangat sedikit. Akibatnya kata dia, mereka mengalami kerugian besar saat mengerjakan pembuatan sumur bor ini.

Saksi lainnya, Hasan, Ketua RT 3 Desa Pematang mengatakan, untuk sumur bor yang ada di depan rumahnya kedalaman mencapai 96 meter. Air yang dikeluarkan juga asin.

Di luar sidang Hasan menjelaskan, Desa Pematang berada tepat di pinggir laut Jawa. Selain sebagai petani padi sawah, warga disana dan beberapa desa  juga menjalankan aktivitas sebagai nelayan.

Setiap tahun jelas Hasan, disana sering krisis air minum. Untuk mencukupi kebutuhan akan air, biasanya mereka membeli dari pedagang. (RONI SAHALA/N).