PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Produksi batu bara di Kalimantan Tengah mengalami tekanan signifikan pada triwulan II-2025. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, tercatat kontraksi sebesar 18,15 persen secara kuartalan (q-to-q) dan 21,19 persen secara tahunan (y-on-y). Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebut penurunan ini sebagai dampak langsung dari melemahnya permintaan dari dua pasar utama, yakni China dan India.

Menurut Agnes, kedua negara tersebut kini lebih mengandalkan produksi batu bara domestik mereka sendiri.

“China dan India mulai mengurangi ketergantungan pada impor, termasuk dari Kalimantan Tengah. Mereka juga beralih ke batu bara dengan nilai kalori lebih tinggi, yang tidak banyak diproduksi di wilayah kita,” jelas Agnes pada Senin, 11 Agustus 2025.

Penurunan permintaan ini berdampak pada aktivitas pertambangan di sejumlah daerah penghasil batu bara di Kalimantan Tengah. Beberapa perusahaan tambang dilaporkan mengurangi volume produksi dan memperlambat ekspansi operasional. Hal ini turut memengaruhi kontribusi sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang tercatat mengalami kontraksi.

Namun, di tengah tekanan sektor batu bara, produksi bauksit menunjukkan tren berbeda. Meski secara kuartalan mengalami penurunan sebesar 2,74 persen, secara tahunan produksi bauksit melonjak tajam hingga 400,14 persen. Agnes menyebut lonjakan ini sebagai hasil dari ekspansi tambang baru dan peningkatan kapasitas produksi yang mulai terealisasi sejak awal tahun.

“Lonjakan produksi bauksit ini menjadi titik terang bagi sektor pertambangan Kalimantan Tengah. Permintaan global terhadap bauksit, terutama untuk industri alumunium, masih cukup kuat dan memberikan peluang bagi daerah untuk diversifikasi komoditas tambang,” ujar Agnes.

BPS Kalimantan Tengah mencatat bahwa dinamika sektor pertambangan pada triwulan II-2025 mencerminkan tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, penurunan batu bara menekan kontribusi ekonomi, namun di sisi lain, bauksit membuka ruang pertumbuhan baru. Pemerintah daerah diharapkan dapat merespons dengan kebijakan yang adaptif untuk menjaga stabilitas dan mendorong keberlanjutan sektor pertambangan. (TESTI PRISCILLA/J)