SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur menjelaskan penyebab banjir dan genangan yang terjadi di Sampit padahal wilayah ini masih musim kemarau.

BMKG memprakirakan banjir yang terjadi pada Selasa, 12 Agustus 2025, dipicu kombinasi curah hujan tinggi akibat operasi modifikasi cuaca (OMC) dan kenaikan rata-rata tinggi air laut pada siang hari.

Prakirawan BMKG Rizaldo Raditya Pratama menjelaskan, kondisi air laut saat ini cenderung lebih tinggi dari normal. Hal ini menyebabkan volume air yang mengalir menjadi terhambat sehingga memicu genangan.

"Penyebab utama banjir dan genangan di Kotim diakibatkan curah hujan tinggi dan kenaikan air laut. Volume air yang tersalurkan menjadi terhambat, namun ini masih memerlukan kajian lebih lanjut," kata Rizaldo, Selasa, 12 Agustus 2025.

Ia menambahkan, curah hujan tinggi yang terjadi baru-baru ini turut dipengaruhi OMC oleh lembaga terkait, yakni BPPK Kalteng dan Tim OMC di Palangka Raya, dalam rangka penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

"Beberapa hari ke depan, curah hujan diprakirakan menurun karena praktik OMC terakhir dilaksanakan hari ini di wilayah Kotim bagian selatan," jelasnya.

Diberitakan, hujan deras yang mengguyur sejak pukul 10.00 WIB telah merendam sejumlah ruas jalan utama di Kota Sampit, seperti Jalan Juanda, Jalan DI Panjaitan, Jalan Pelita, Jalan Suprapto Selatan, Jalan Tjilik Riwut, Jalan RA Kartini, Jalan Muara Teweh, Jalan Walter Condrat, dan Jalan Cristopel Mihing.

Banjir juga masuk ke rumah warga dan beberapa sekolah, menghambat aktivitas masyarakat. Sejumlah kendaraan milik warga dilaporkan mengalami kerusakan saat melintas di jalan yang tergenang. (DEWI PATMALASARI/R)