BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP mencatat capaian signifikan dalam penyaluran biodiesel nasional. Hingga 23 Juli 2025, realisasi distribusi biodiesel telah mencapai 7,5 juta kiloliter, atau sekitar 48,26 persen dari target tahunan.
Capaian ini turut berkontribusi pada penghematan devisa sebesar Rp 41,11 triliun, memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Data tersebut disampaikan dalam rapat Monitoring dan Evaluasi Program Pembiayaan Dana Insentif Biodiesel yang digelar di Gedung Badan Pengusahaan Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan ini merupakan sesi monitoring ketiga sepanjang tahun 2025 dan menjadi bagian dari komitmen BPDP dalam mendukung keberlanjutan energi terbarukan nasional.
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman dalam sambutannya menegaskan pentingnya langkah strategis untuk memastikan keberhasilan program biodiesel.
“Fokus utama mencakup persiapan implementasi B50 dan penguatan kapasitas produksi B100. Tentu ada tantangan seperti disparitas harga dan pembiayaan sektor Non-PSO yang perlu ditangani secara sistematis,“ kata Eddy dalam rilisnya pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Forum ini juga membahas sejumlah isu teknis dan strategis, termasuk kesiapan infrastruktur dan pendanaan untuk B50, percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), serta diversifikasi sumber dana insentif. Hambatan operasional dari industri tambang dan pelayaran terkait penggunaan B40 Non-PSO menjadi perhatian khusus dalam diskusi lintas sektor.
“BPDP akan terus menindaklanjuti berbagai isu dan masukan yang muncul dalam forum ini. Langkah-langkah konkret akan diambil untuk memastikan program mandatori biodiesel berjalan optimal, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon dan transisi menuju energi bersih,“ katanya lagi.
Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, BPDP optimistis bahwa Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pelopor energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Program biodiesel bukan hanya solusi energi, tetapi juga instrumen strategis dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/H)









