BORNEONEWS, Kasongan - Sejumlah petani atau pemilik kebun karet di Kabupaten Katingan mengaku resah pada musim penghujan ini. Saat hujan turun petani tidak bisa menyadap getah karetnya.
Padahal harga getah karet ini mengalani kenaikan dibanding sebelumnya, yakni Rp6 ribu per kilo dari sebelumnya Rp5 ribu per kilogramnya.
"Kalau hujan turun pagi hari maka kita tidak bisa menderes batang karet kita, sebab kalau dipaksakan getah yang dideres akan banyak hilang tidak masuk dalam tempat penampungan," sebut Dadi, seorang pemilik kebun karet di Desa Bukit Batu Kasongan, Selasa (1/11/2016).
Biasanya, kata Dadi hampir setiap hari ia selalu menyadap getah karet miliknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Biasanya, getah yang dideres itu kemudian dikumpulkan dalam satu wadah berupa ember. Bisa juga dikumpulkan dalam kotak kayu yang disimpan dalam kolam.
"Kalau sudah agak banyak getah itu kami jual ke pengumpul. Tapi sekarang kita tidak bisa tiap hari menderes, karena sering hujan," katanya.
Saat ini getah karet dari petani dihargai Rp6 ribu per kilo atau Rp600 ribu per kwintal oleh pedagang pengumpul.
"Selama ini harga karet memang murah. Tapi ya tetap saja kita tetap menyadap karet itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujar Dadi yang mengaku memiliki sekitar dua hektar kebun karet ini.
Sementara menurut Madi pengumpul getah karet di Kasongan membenarkan jika pada musim hujan ini petani yang menjual getah karet berkurang.
"Sekarang kita harus menunggu setengah bulan untuk menjual getah itu ke pabrik dari biasanya paling lama seminggu sudah dapat sekitar 5 ton, karena cuaca sering hujan sehingga petani banyak tidak menderes," ujar Madi. (ABDUL GOFUR)








