BORNEONEWS, Kuala Kurun - Wakil Bupati Gunung Mas Efrensia L.P Umbing menghadiri kegiatan sosialisasi Peraturan Bupati nomor 20 tahun 2025 tentang Pembangunan Kemitraan Pemasaran Pariwisata yang dilaksanakana si GPU Damang Batu Kuala Kurun, Rabu, 13 Agustus 2025.
"Perbub ini hadir sebagai langkah konkret dalam membangun sistem kemitraan yang kolaboratif antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat. Melalui kemitraan ini kita ingin memastikan bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga memberi ruang partisipasi aktif kepada pelaku usaha, komunitas, dan warga masyarakat sebagai pemilik kearifan lokal dan penjaga identitas budaya daerah," ujar Efrensia, Rabu, 13 Agustus 2025.
Kemudian diharapkan bisa memperkuat sinergi lintas sektor dalam memajukan bagai leading sektor pelaksanaan napak tilas perdamaian Tumbang Anoi sebagai event tetap 2 tahunan dan pemasaran pariwisata daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
Dia berharap kegiatan sosialisasi Peraturan Bupati Gunung Mas nomor 20 tahun 2025 tentang pembangunan Kemitraan Pemasaran Pariwisata sekaligus bazar ekonomi kreatif ini dapat menjadi sarana untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, serta semangat kebersamaan dalam memajukan pariwisata gunung mas.
Latar belakang dari pembentukan Peraturan Bupati Gunung Mas nomor 20 tahun 2025 tentang Kemitraan Pembangunan Pariwisata ini yaitu, pemasaran dalam rangka membentuk sistem kemitraan yang kolaboratif pemerintah, swasta, antara dan syarakat guna memajukan sektor pariwisata.
Diharapkan pemerintah, pihak swasta seperti pelaku usaha atau investor serta masyarakat agar dapat bersama-sama mengembangkan dan memajukan sektor pariwisata, baik dari segi infrastruktur, pelayanan, promosi serta pemasarannya.
Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi unggulan Kabupaten Gunung Mas yang memiliki daya tarik alam, budaya, dan kearifan lokal yang luar biasa.
Untuk itu diperlukan strategi dan kebijakan yang tepat dalam mempromosikan dan memasarkan destinasi wisata secara lebih terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan. (RISKA YULYANA/R)









