PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemerintah Indonesia menempatkan pengembangan food estate atau lumbung pangan nasional sebagai strategi utama menghadapi ancaman krisis pangan global.

Langkah ini sejalan dengan peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang mencatat tren peningkatan kerawanan pangan dunia selama beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, lebih dari 295 juta orang di 53 negara dan wilayah mengalami kelaparan akut, naik hampir 14 juta jiwa dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat kelaparan ekstrem bahkan mencapai rekor tertinggi, sementara malnutrisi anak dan kerawanan pangan meningkat selama enam tahun berturut-turut.

Pemerintah menargetkan food estate mampu mendorong swasembada pangan dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Kementerian Pertanian mendapat mandat mempercepat pencetakan sawah seluas 3 juta hektare di Merauke, Papua, Kalimantan, dan Sumatera.

Program ini telah berjalan di Merauke dan Kalimantan Tengah, dan akan diperluas ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, serta Sumatera Selatan.

Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran menyatakan optimismenya terhadap capaian pembangunan lumbung pangan di daerahnya. “Terkait lumbung pangan, saya optimis program ini dapat berjalan baik dan sudah menunjukkan progres yang signifikan,” ujar Agustiar dalam keterangan resminya, Rabu, 13 Agustus 2025.

Menurutnya, sektor pertanian dan pangan akan menjadi tulang punggung pembangunan daerah hingga nasional. Pemerintah provinsi mendorong optimalisasi lahan, termasuk mengaktifkan kembali lahan tidur agar produktif, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal.

“Contohnya kemarin kita panen di lahan seluas 3.800 hektare, dan besok targetnya 5.000 hektare. Ini bukti bahwa program sudah berjalan sudah hasilnya mulai terlihat,” kata Agustiar. (HERMAWAN DP/J)