BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Koperasi,UKM,Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmindag) setempat akan menggelar operasi pasar.
"Operasi pasar akan diselenggarakan pada Sabtu, 16 Agustus 2025, sebagai upaya untuk menstabilkan harga beras yang dilaporkan mengalami kenaikan di pasaran," kata Kepala Diskopukmindag Kotim, Johny Tangkere, Kamis, 14 Agustus 2025.
Ia mengungkapkan kegiatan tersebut akan dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.
Johny menjelaskan bahwa operasi pasar akan menyediakan 1.000 paket sembako untuk masyarakat. Selain itu, pihaknya juga akan menjual pangan murah berupa beras SPHP sebanyak 500 kemasan berat 5 Kg dengan harga Rp60.000, serta minyak goreng "Minyak Kita" seharga Rp15.000.
"Jadi kita sesuai arahan Pak Bupati, hari Sabtu 16 Agustus 2025 nanti mulai jam 06.00 sampai jam 12.00 kita akan lakukan operasi pasar untuk ada 1000 paket sembako untuk kecamatan Bamang dan Ketapang ya," ujar Johny Tangkere.
Johny menambahkan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan Kapolres Kotim kepada bupati terkait harga beras yang mahal di pasaran, sementara stok di Bulog mencukupi. Pihaknya berencana untuk melanjutkan kegiatan serupa di Parenggean dan wilayah lainnya yang sulit dijangkau.
"Ada laporan dari Pak Kapolres ke Pak Bupati bahwa beras di pasaran mahal sedangkan stok di Bulog itu kan banyak. Pokoknya pemerintah daerah akan menindaklanjuti," jelasnya.
Selain itu, Diskopukmindag Kotim juga melakukan pengawasan terhadap kualitas beras yang beredar di pasaran. Johny mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirim sampel beras ke Palangka Raya untuk diuji di laboratorium karena Kotim belum memiliki fasilitas tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya praktik oplosan atau kecurangan lainnya.
"Kami masih mengevaluasi penyebab tingginya harga beras, apakah karena adanya dugaan oplosan. Terkait oplosan kami sudah mengirimkan sampel beras ke Palangkaraya karena kita tidak punya laboratorium untuk pengecekan beras oplosan, jadi kita menunggu hasilnya," ungkapnya. (DEVIANA/y)









