BORNEONEWS, Palangka Raya – Keluarnya barang Kalimantan Tengah untuk tujuan ekspor ke negara lain, tidak melulu melalui pelabuhan Kalteng meski telah ada beberapa pelabuhan yang layak. Setidaknya ada dua kendala yang membuat komoditas Kalteng tidak mulus sebagai barang ekspor.

Pertama karena unsur fasiltas pelabuhan bongkar muat dan kedua, karena jumlah produksi yang akan dimuat untuk tujuan ekspor. Dengan dua kendala ini, akhirnya banyak pengusaha ekspor-impor yang melakukan aktivitas ekspornya dengan memilih pelabuhan luar Kalteng. Catatan ini berdasarkan potret yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng.

“Pengusaha kan mempertimbangkan dari segi bisnis, selama menguntungkan bagi mereka itulah yang dipilih. Kendala kenapa banyak barang ekspor dilakukan pengiriman melalui pelabuhan di luar Kalteng, ya karena dua kendala tadi,” kata Kepala BPS Kalteng Hanif Yahya, Selasa (1/11/2016).

Ia memisalkan, untuk mengirim suatu komoditas sedikitnya harus 100 kontainer, namun pasokan Kalteng hanya 60 kontainer maka pengusaha lebih memilih untuk mencari pelabuhan pegumpul sebelum akhirnya dikirim ke tujuan ekspor. Lalu karena fasilitas pelabuhan, dan di luar dua hal tersebut menurut Hanif, adalah faktor kedekatan sumber daya dengan pelabuhan.

“Fasilitas Pelabuhan masih banyak belum memenuhi syarat. Jadi kalau dari komoditas ada di Murung Raya, masa mau kirim lewat Pangkalan Bun, kan pasti mereka lebih memilih ke Banjarmasin karena pertimbangan untung rugi dan lebih memilih yang mudah. Konsekuensinya, tercatat di luar kalteng itu, dan yang dapat devisanya ya ada dari luar Kalteng. Karena itu, kita harus perbaiki akses dan fasilitas layanan pelabuhan,” tuturnya.

Catatan berikutnya, selama September 2016, keseluruhan transaksi ekspor melalui Kalteng senilai US$8,42 juta, difasilitasi pelabuhan Pangkalan Bun senilai US$1,9 juta, Kumai senilai US$5,16 juta, dan Sampit senilai US$1,36 juta.

Sedangkan ekspor melalui pelabuhan provinsi lainnya, justru jauh lebih besar yaitu tercatat US$37,48 juta. Terbagi antara lain Pelabuhan Banjarmasin (Kalsel) senilai US$24,39 juta, Tanjung Perak (Surabaya) senilai US$9,42 juta, Tanjung Priok (Jakarta) senilai US$0,5 juta.

“Dari ekspor sebesar ini, seluruh potensi pelabuhan muat ekspor Kalteng hanya berperan sebesar 18,34%,” jelas Hanif.

Sementara itu, jika meninjau jumlah total ekspor selama Januari-September 2016, Pelabuhan Kalteng hanya kebagian 24,88%. Terbagi Sampit (yang mendominasi) sebesar 13,04% disusul Kumai 5,84%,Pangkalan Bun 5,22% dan Pelabuhan Pulang Pisau 0,68%. Sementara ekspor melalui pelabuhan provinsi lainnya tercatat 75,22%. (ROZIKIN/m)