BORNEONEWS, Sampit - Fenomena generasi muda yang kian akrab dengan dunia digital kini menimbulkan keprihatinan tersendiri. Lagu-lagu nasional yang dahulu menjadi pemantik semangat perjuangan dan rasa cinta tanah air, kini tergeser oleh deretan lagu viral TikTok. Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera, tetapi juga alarm bagi lunturnya nilai-nilai kebangsaan.
Sekretaris Badan Kesbangpol Kotawaringin Timur (Kotim) Eddy H Setiadi tak menampik kenyataan bahwa generasi saat ini telah dijajah lagu-lagu TikTok. Bahkan kerap kali mereka tak hafal mengumandangkan lagu kebangsaan.
"Kita cukup prihatin, tapi kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Ini perkembangan zaman. Mungkin kalau zaman dulu sudah ada TikTok, kita juga bisa jadi lebih parah dari mereka," kata Eddy, Minggu, 17 Agustus 2025.
Meski begitu, Eddy menekankan modernisasi tidak boleh mengikis nilai-nilai luhur bangsa. Generasi muda harus tetap mengikuti perubahan zaman, tapi harus lebih bijak.
"Nilai-nilai luhur bangsa harus menjadi pegangan. Jangan sampai hanya ikut tren, tapi melupakan jati diri,” imbuhnya.
Sayangnya, tahun ini program peningkatan wawasan kebangsaan melalui Badan Kesbangpol Kotim terkendala anggaran. Nyaris semua kegiatan tahun ini ditoadakan karena kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Namun pihaknya tidak berdiam diri. Kesbangpol Kotim terus menyasar pelajar untuk dijejali materi wawasan kebangsaan.
"Bahkan hampir setiap waktu kita diminta mengisi untuk materi wawasan kebangsaan. Kemarin di MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah), Pusdiklat (pusat pendidikan dan pelatihan) Paskibraka, persiapan calon da'i untuk Kemenag kita juga berikan wawasan kebangsaan,” tuturnya.
Ia berharap, ke depan dukungan anggaran kembali normal agar kegiatan langsung ke masyarakat terkait wawasan kebangsaan bisa berjalan efektif.
Lebih lanjut, ia juga menyebut peran guru juga sangat penting. Guru bisa memulai dari hal sederhana, seperti dengan mengajak para pelajar mengumandangkan lagu kebangsaan.
Adapun, keprihatinan yang sama juga sempat dilontarkan Bupati Kotim Halikinnor. Ia mengaku miris ketika mengunjungi sebuah sekolah dasar dan meminta murid-murid menyanyikan lagu Proklamasi, namun tak satu pun yang hafal.
“Kenapa saya meminta lagu nasional dikumandangkan setiap kegiatan? Karena saat mengunjungi SD saya minta anak-anak menyanyikan lagu Proklamasi, tapi tidak ada yang bisa. Ini sangat memprihatinkan. Lagu-lagu nasional yang diciptakan untuk membangkitkan semangat cinta tanah air dan perjuangan malah diabaikan. Sementara mereka hafal lagu-lagu yang tren masa kini,” ujar Halikinnor beberapa waktu lalu.
Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat nasionalisme, terutama di tengah gempuran konten media sosial saat ini. Oleh karena itu, ia meminta setiap kegiatan di lingkungan pemerintah wajib mengumandangkan lagu kebangsaan.
Pemkab Kotim juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 800/7677/BKPSDM.PKAP/2025 yang mewajibkan ASN memperdengarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya setiap Selasa dan Kamis pukul 10.00 WIB serta membacakan Naskah Pancasila setiap Senin, Rabu, dan Jumat di unit kerja masing-masing.
“Kita ingin menumbuhkan rasa cinta tanah air. Karena dengan mendengar lagu-lagu nasional itu, rasanya berbeda. Ada semangat tersendiri yang tumbuh,” katanya.
Ia berharap, langkah ini menjadi contoh agar generasi muda ikut tergugah untuk mengumandangkan lagu kebangsaan sehingga tumbuh kembali rasa cinta tanah air.
Dirinya menyadari, kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung sepenuhnya. Bahkan, menurutnya, anak-anak saat ini lebih mahir menggunakan gadget daripada orang dewasa. Namun demikian, ia menegaskan pentingnya membentengi generasi muda dengan nilai-nilai kebangsaan.
“Kita tidak bisa sepenuhnya membatasi penggunaan gadget. Tapi paling tidak kita bisa membendung arus negatifnya dengan memberikan pendidikan karakter, salah satunya lewat lagu nasional,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









