Oleh ; Dr Moh Ali Fadhillah

SITUS  Kotawaringin lama setelah ibukota dipindahkan ke Pangkalan Bun hanyalah menjadi tempat berdiamnya para mangkubumi antara masa pemerintahan raja IX dan XII.

Namun, ia tetap mengikuti pola keruangan kota-raja. Astana Alnursari yang mempresentasikan diri seolah-olah sebuah keraton dengan alun-alun dan dermaga pribadi di depannya, sedangkan rumah-rumah para menteri ditempatkan sejajar dengan Astana Alnursari.

Dermaga publik selalu berada di sebelah selatan dari bekas kota-raja. Citra itu tampaknya tetap dipertahankan sampai sekarang dengan sedikit perubahan yang ditandai berdirinya rumah-rumah baru di tepi sungai, menutup pandangan langsung dari Astana Alnursari ke tepi sungai Lamandau.  

Sekarang mari kita lihat tata ruang ibukota kedua di Pangkalan Bun, di mana jantung kota terdapat di Kampung Raja dengan titik pusatnya pada Keraton Kuning.

Keraton ini secara tipikal menunjukkan rancang bangun tradisional Kalimantan. Bagian kaki dan badan terutama mengesankan pada konstruksi betang (rumah panjang). Karakteristik  utama betang terletak pada bentuk memanjang yang memberi kesan horizontal, terutama pada bangunan pendapa, gadong kuning dan rumah basar.

Bangunan pendapa misalnya, sedikit berbeda dengan pendopo di Jawa yang umumnya hampir berbentuk persegi empat. Pendapa di kompleks Keraton Kuning mempunyai bentuk segi empat panjang yang mengadopsi model rumah betang.

Namun, fungsinya sebagai ruang pertemuan menunjukkan percobaan pengidentifikasian dengan pendopo Jawa atau wantilan di Bali. Namun atap susun dua yang berbentuk limasan adalah fenomena unik di Kotawaringin dan bahkan di Kalimantan. 

Kita tidak menemukan atap jenis itu pada bangunan-bangunan besar lain seperti pada Gadong Asam dan Astana Alnursari di Kotawaringin Lama. (yoh/*)