BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Perayaan Hari Kemerdekaan di Banjarbaru, Kalsel sempat diwarnai insiden tak terduga. Sebuah tiang panjat pinang yang digunakan untuk lomba, dilaporkan roboh pada Minggu, 17 Agustus 2025. Robohnya satu tiang tersebut memicu efek domino, membuat tiang di sebelahnya juga ikut tumbang. Kejadian ini sempat terekam kamera dan membuat kaget penonton maupun panitia.
"Beruntungnya, saat insiden terjadi, belum ada satu pun peserta yang berhasil mencapai puncak tiang. Tiang yang roboh juga tidak menimpa para peserta maupun penonton yang berada di area sekitar," tukas Harmain, salah satu panitia menginformasikan di whatsapp grup Emergency Banjarmasin.
Kondisi ini membuat semua pihak bisa bernapas lega karena tidak ada korban luka akibat kejadian tersebut. Insiden ini menjadi pengingat tentang potensi bahaya yang mengintai dalam lomba yang populer di setiap perayaan 17 Agustus ini.
Salah seorang pengamat sosial, Arfian, mengungkapkan bahwa lomba panjat pinang menyimpan banyak risiko berbahaya.
"Mulai dari terjepit, jatuh hingga dislokasi menjadi risiko yang mesti dihadapi," ujar Arfian.
Ia menyoroti bagaimana bahaya fisik sering kali luput dari perhatian, padahal keselamatan peserta seharusnya menjadi prioritas utama.
Lebih lanjut, Arfian menjelaskan bahwa di balik nilai gotong royong yang sering dikaitkan dengan panjat pinang, ada sejarah yang kurang elok. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan jika lomba ini dianggap sebagai bentuk kerja sama tim, namun ia mengingatkan kembali asal-usulnya.
Menurutnya, panjat pinang pada awalnya ditujukan sebagai hiburan bagi para pejabat pemerintah kolonial Belanda. Ia mengutip buku The Rough Guide to Cult Sport karya Lloyd Bradley yang menyebutkan, "Menonton rakyat jelata saling menginjak memperebutkan hadiah yang tak mampu mereka dapatkan menjadi hiburan bagi kolonial Belanda saat itu."
Penjelasan Arfian ini membuka perspektif baru bahwa panjat pinang bukanlah sekadar permainan tradisional, melainkan warisan sejarah yang berakar dari masa penjajahan. Lomba ini menjadi semacam pertunjukan yang mengeksploitasi penderitaan rakyat jelata demi kesenangan pihak kolonial.
Insiden robohnya tiang panjat pinang di Banjarbaru, selain menjadi peringatan akan bahaya fisik, juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna dan sejarah di balik perayaan kemerdekaan. Perlu adanya kesadaran kolektif untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih bermartabat, tanpa mengabaikan keselamatan dan nilai-nilai kemanusiaan. (SABRIANOOR/H)









